Kesuksesannya tak lepas dari dukungan kredit usaha rakyat (KUR) sebuah bank pemerintah. Pada awal merintis usaha, dia mengaku sempat meminjam dana KUR sebesar Rp 10 juta.
Dana itu dimanfaatkan untuk membeli bahan baku dan mesin pengolahan kopi seperti grinder, huller, dan pulper. “Waktu itu, saya butuh dana tambahan untuk beli bahan baku dan alat,” ujarnya.
Seiring waktu, Ridlo kembali memanfaatkan fasilitas KUR beberapa kali dengan nominal bervariasi hingga belasan juta rupiah. Pinjaman tersebut digunakan untuk menjaga kontinuitas produksi. Terutama, saat harga bahan baku kopi melonjak.
“Harga cherry merah sempat naik dari Rp 700 ribu jadi Rp 1,5 juta per kuintal,” jelasnya.
Usahanya terus berkembanng. Kini Kopi Zayna telah dikenal di berbagai kota di Indonesia. Bahkan, sempat menembus pasar Hongkong. Pemasaran dilakukan secara manual melalui Instagram dan WhatsApp.
Kopi Zayna juga dijual secara langsung ke reseller, kedai kopi, hingga pembeli individual dari luar Jawa. “Saya lebih fokus jualan online dan membangun mitra. Produk saya juga pernah dikirim ke luar negeri lewat jaringan relasi,” kata Ridlo.
Untuk menjaga kualitas, Ridlo hanya menggunakan biji kopi merah (cherry merah) yang disortir secara ketat. Ia juga menerima jasa penggilingan kopi bagi petani sekitar agar bisa meningkatkan nilai jual kopi lokal.
“Yang penting kualitas dijaga. Karena saya juga ingin edukasi petani tentang pentingnya petik merah dan pengolahan yang benar,” ujarnya.
Ridlo ingin memperluas pasar dan menjadikan Kopi Zayna sebagai representasi kopi Muria yang berkualitas. “Semoga bisa membuka lapangan kerja, memperkuat petani lokal, dan memperkenalkan kopi Muria lebih luas lagi,” paparnya. (adm/amd)










