SMA Negeri 1 Gebog sebagai tuan rumah turut mengirimkan perwakilannya untuk beberapa cabang lomba. Namun tidak semua lomba diikuti.
”Kami seleksi internal dulu. Kalau tidak ada bibitnya, ya tidak kami ikutkan. Misalnya lomba awitan, tahun ini tidak kami ikuti karena keterbatasan alat dan kesiapan siswa,” jelas Baharfian.
Ia menyebutkan beberapa potensi unggulan dari SMA Negeri 1 Gebog yang konsisten tampil baik setiap tahun, antara lain seni tari, kriya, poster digital, dan sastra. Keberadaan ekstrakurikuler yang mendukung seperti teater, tari, dan literasi turut membantu menemukan dan mengembangkan bakat siswa.
Baharfian berharap FLS2N tidak hanya menjadi agenda tahunan, tapi bisa ada kompetisi seni yang lebih rutin. Meski di tingkat internal sekolah atau antar sekolah.
“”Kompetisi semacam ini penting untuk melihat potensi siswa. Kalau tidak pernah diuji, kita tidak akan tahu bakat mereka sejauh mana,” tutupnya.
Ajang FLS2N ini, kata dia, membuktikan bahwa dunia pendidikan tak hanya soal akademik. Tetapi juga ruang bagi siswa untuk berkarya, berekspresi, dan menggali potensi diri melalui seni dan budaya. (adm/fat)










