Heri menjelaskan, sentuhan arsitektur era Belanda yang dihadirkan bukan untuk menciptakan kemewahan, melainkan sebagai bagian dari pelestarian kearifan lokal. Corak pesisir dan Tionghoa pun turut diakomodasi untuk mencerminkan wajah budaya Kota Rembang.
“Kami akomodir semuanya di situ. Jadi kami tidak terlalu mewah, tetapi dengan kearifan lokal. Kearifan lokal harus kami jaga,” tegasnya.
Pasar Rembang yang baru ini ditargetkan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) tipe I, yang mencakup aspek kenyamanan, keamanan, dan kelayakan fungsi. Heri juga memastikan bahwa pasar tersebut akan menjadi pasar ramah anak dan ramah disabilitas.
Tak hanya itu, salah satu inovasi penting dalam desain adalah keberadaan sekolah pedagang cerdas. Fasilitas ini disiapkan untuk membekali para pedagang dengan pengetahuan tentang perdagangan yang sehat dan berdaya saing.
“Hubungannya dengan Kabupaten/Kota Sehat akan sinkron. Karena nanti pengawasan bahan pangan yang bebas formalin dan sebagainya itu bisa masuk untuk membina pedagang cerdas tadi,” imbuhnya.
Dengan desain yang memadukan nilai budaya, kenyamanan, dan fungsi edukatif, Pasar Rembang diharapkan tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi ikon baru kota yang modern namun tetap berakar pada identitas lokal. (hms/rds)










