Agung menilai bahwa kebutuhan terhadap layanan pendidikan inklusi makin meningkat. Namun, sayangnya belum seluruh sekolah siap menerima anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).
“Banyak sekolah yang mengklaim sebagai sekolah inklusi, tetapi belum menyiapkan perangkat dan sumber daya yang memadai. Akhirnya anak hanya diterima di administrasi, tetapi tidak benar-benar diberi layanan pendidikan yang semestinya,” tuturnya.
Sebagai lembaga yang konsisten mendampingi anak-anak ABK, kata Agung, Fun & Play kini memasuki usia ke-7 dan telah meluluskan puluhan siswa. Bahkan, banyak di antaranya yang melanjutkan pendidikan di sekolah umum dan meraih prestasi.
“Ada alumni kami yang mendapat rangking (peringkat, Red.) di sekolah umum. Ada juga yang berhasil adaptasi dengan baik di sekolah lain. Ini membuktikan, jika ditangani sejak dini, anak-anak ABK bisa berkembang luar biasa,” tegasnya.
Fun & Play sendiri dikenal dengan rasio guru-siswa yang rendah, yakni 3 guru untuk 5 siswa, sehingga pendampingan bisa dilakukan secara intensif. Adapun jumlah seluruh siswa di Fun & Play saat ini mencapai 50 siswa dengan rincian TK A, TK B dan SD mulai kelas 1 hingga kelas 4.
Untuk menyosialisasikan kelas toddler ini, Agung mengatakan akan mengoptimalkan media sosial serta jaringan orang tua siswa. Sebab, banyak wali murid yang sebelumnya sudah mengajukan permintaan layanan untuk usia lebih dini, namun belum bisa diakomodasi karena keterbatasan sarana dan kesiapan tenaga pendidik.
“Kami sadar, banyak orang tua yang ingin anaknya mulai belajar dan ditangani sejak kecil. Nah, ulang tahun ke-7 ini menjadi momentum kami membangun fondasi layanan yang lebih lengkap. Mulai dari daycare, toddler, TK hingga SD, dan kelak mungkin hingga SMP serta SMA,” pungkasnya. (ara/adf)










