Jepara  

Sulap Daun Jati yang Dianggap Sampah, Pemuda Jepara Ciptakan Lukisan Bernilai Tinggi

BERBAKAT: Muhammad Chasan Asykari (26) pemuda asal Desa Ngabul, Kecamatan Jepara yang menyulap limbah daun jati menjadi lukisan bernilai. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

Proses pembuatan lukisan tidaklah mudah. Daun jati yang digunakan diambil dari kebun itu direndam dalam air agar lunak dan tidak mudah pecah.

Setelah itu, daun ditekan menggunakan buku atau benda berat lain agar permukaannya rapi. Selanjutnya, proses cutting bentuk yang menurut Chasan merupakan bagian tersulit.

“Hal yang sulit itu saat meng-cutting, karenna kalau tidak hati-hati lukisan bisa rusak,” katanya.

Diperlukan waktu sekitar tiga bulan latihan intensif sebelum ia bisa menghasilkan karya sebagus sekarang.

Kini, dalam sehari Chasan bisa menyelesaikan satu lukisan, dengan durasi pengerjaan rata-rata 2 sampai 3 hari, tergantung tingkat kesulitannya. Harga lukisan bervariasi, mulai dari Rp220 ribu hingga Rp520 ribu per buah.

Karya Chasan tak hanya diminati warga Jepara, tetapi juga telah merambah luar daerah. Salah satu pemesan terjauh datang dari Kalimantan Selatan, bahkan khusus memesan potret untuk Bupati Hulu Sungai Selatan.

Hingga kini, sudah ratusan lukisan yang berhasil ia buat dan dipasarkan melalui akun media sosial miliknya dengan nama ‘Lukisan Daun Jati Jepara’. Karyanya tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga menjadi simbol transformasi limbah menjadi karya seni penuh makna.

“Yang paling jauh pemesanan dari Kalimantan Selatan dan yang paling bermakna saat melukis Mbah Maimoen karena pas waktu lukis beliau sudah meninggal,” tandasnya. (oka/adf)