SEMARANG, Joglo Jateng – Dugaan beredarnya beras oplosan di sejumlah daerah di Jawa Tengah ternyata belum terbukti. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah menyatakan hasil pengujian di tiga kabupaten, yakni Kudus, Grobogan, dan Kabupaten Semarang menunjukkan tidak adanya indikasi beras oplosan. Sementara itu, dua merek beras di Kota Semarang masih dalam proses uji laboratorium.
Kepala Bidang Standarisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Disperindag Jateng, Devita Ayu Mirandati, mengungkapkan, pemantauan dilakukan menyusul temuan nasional terkait peredaran beras oplosan yang dirilis oleh Kementerian Pertanian. Di Jawa Tengah sendiri, sejauh ini sudah ada empat merek beras premium yang diuji.
“Hasil pengecekan di Kudus, Grobogan, dan Kabupaten Semarang menunjukkan nihil temuan beras oplosan,” ujar Devita, Rabu (23/7/2025).
Di Kabupaten Kudus, pemeriksaan dilakukan di beberapa lokasi seperti Agen Distributor Toko Swan, UD Sri Tanjung, Swalayan ADA, hingga Superindo. Pemeriksaan yang dilakukan pada 15 dan 17 Juli lalu tidak menemukan indikasi penyimpangan pada beras yang beredar.
Sementara itu di Grobogan, pengawasan dilakukan di wilayah Purwodadi dengan mengambil sampel dua merek beras, yakni Sania dan Setra Pulen (Alfamidi). Keduanya diuji di laboratorium Perum Bulog Toroh, Grobogan, untuk mengecek kadar butir patah yang kerap menjadi indikator kualitas beras premium.
“Hasilnya, kadar butir patah Sania 8,4 persen dan Setra Pulen 10,2 persen masih dalam batas aman sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023, yang menetapkan ambang maksimal sebesar 15 persen,” jelasnya.
Kegiatan pengawasan juga dilakukan di Kota Semarang, dengan menyasar 11 titik penjualan. Dari hasil penyisiran, ditemukan dua merek beras premium, Sofia dan Fortune, yang kini tengah menjalani uji laboratorium.
“Uji lab-nya masih berlangsung, mungkin dua hari lagi hasilnya keluar. Kami tentu berharap hasilnya sesuai dengan kriteria beras premium,” ujarnya.
Devita mengingatkan masyarakat agar lebih cermat saat membeli beras, terutama dalam mengenali kualitas fisik dan kelengkapan kemasan. Pihaknya juga akan terus berkomitmen untuk menjaga kualitas pangan masyarakat dan memastikan produk yang beredar di pasar sesuai standar mutu.
“Pastikan kemasan tersegel dengan baik dan memuat informasi yang lengkap. Waspadai bila warna beras tidak seragam, butiran berbeda-beda, atau ada aroma tak biasa,” imbaunya. (luk/ iza)










