REMBANG, Joglo Jateng – Di tengah derasnya minat siswa pada kegiatan digital dan modern, ekstrakurikuler pecinta alam Sabha Bawana di SMA Negeri 1 Kragan tetap eksis. Wadah ini konsisten menjalankan kegiatan alam bebas yang menantang dan mendidik.
Didirikan pada 1 Desember 1998, Sabha Bawana menjadi salah satu wadah bagi siswa untuk mengenal lebih dekat dunia alam, menjelajah, dan belajar bertahan hidup. Di bawah bimbingan Sujati selaku pembina, kegiatan ini meliputi berbagai materi seperti mountaineering, navigasi darat, susur gua, susur sungai, dan search and rescue (SAR).
“Materi-materi kita banyak, ada juga pendakian,” jelasnya.
Sabha Bawana memiliki agenda tahunan utama. Yaitu Diklat Dasar (Diksar) yang biasanya dilaksanakan setiap Oktober. Lokasinya berpindah-pindah, salah satunya di Singgahan, Montong, yang memiliki kontur medan menantang. Menurutnya, latihan rescue canyoning (RC) bisa sampai ketinggian 45 meter dan susur gua hingga kedalaman lebih dari 100 meter.
“Semua anak dibekali dulu materinya di sekolah. Baru nanti ketika praktik di lapangan, mereka sudah siap. Kalau diksar, biasanya anak-anak kelas 10 yang ikut,” terangnya.

Selain kegiatan tahunan, Sabha Bawana juga aktif melakukan latihan mingguan setiap Sabtu. Latihan ini fokus pada materi dasar hingga lanjutan tergantung level anggota. Latihan bisa berupa teori seperti pengenalan alat atau teknik, hingga fisik ringan.
“Hari ini kita bahas montenering. Minggu depan bisa survival atau navigasi. Nanti kalau sudah diksar baru praktik di luar,” katanya.
Meskipun fasilitas terbatas dan dukungan dari pihak luar tidak selalu optimal, Sabha Bawana tetap mampu mencetak prestasi. Seperti alumni yang berhasil meraih juara 1 panjat tebing tingkat SMA se-Kabupaten Rembang.
“Kalau prestasi, paling menonjol memang di panjat tebing. Pernah juga juara 1 survival di UNIROW. Tapi sayangnya lomba-lomba seperti itu jarang ada, bisa lima tahun sekali,” lanjutnya.
Sujati menyayangkan kurangnya dukungan dari pihak kabupaten dalam hal kompetisi panjat tebing yang seharusnya bisa diikutsertakan dalam ajang POPDA. “Sayangnya di kabupaten ini belum ada perhatian khusus untuk panjat tebing. Sekolah yang punya wall juga terbatas,” tuturnya.
Perjalanan Sabha Bawana tidak selalu mulus. Jumlah peminat naik turun setiap tahunnya. Tahun ini, jumlah anggota tergolong menurun dibanding tahun sebelumnya.
“Turun-naik, ya tergantung dari dukungan sekolah dan masyarakat. Kalau sekolah mendukung, biasanya peminat banyak. Kalau enggak, ya susah,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Sujati mengungkapkan, semangat solidaritas dan kekeluargaan di Sabha Bawana tetap kuat. Alumni masih sering datang untuk memberi semangat atau bahkan ikut latihan.
“Anak-anak yang sudah lulus juga masih sering main. Kalau mau ikut latihan, kita tidak pernah larang. Asal izin dulu ke ketua, itu saja,” tandasnya. (uma/fat)










