Kudus  

Dari Tari Kretek hingga Boneka Raksasa, Begini Kemeriahan Perayaan HUT ke-476 Kudus

Karnaval Budaya Angkat Kearifan Lokal & Toleransi

MENARIK: Salah satu peserta karnaval budaya tampak tengah menghibur masyarakat yang hadir menyaksikan gelaran, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

RIBUAN masyarakat antusias menyaksikan Festival Karnaval Budaya dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-476 Kabupaten Kudus, di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada Sabtu (20/9) lalu. Mengangkat tema Atma Abhinaya, bermakna semangat jiwa dalam berkarya dan berkebudayaan, festival ini diramaikan berbagai atraksi budaya, parade boneka raksasa dan beragam tarian tradisional.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengapresiasi, antusiasme masyarakat yang luar biasa dalam mendukung gelaran budaya tahunan ini. “Penampilannya sangat luar biasa semuanya. Terima kasih atas atensinya, semangatnya, dalam rangka memberikan dukungan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus,” ungkapnya, belum lama ini.

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan melestarikan budaya dan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata. “Beberapa kesenian dan budaya ini kita tampilkan dalam rangka menarik wisatawan ke Kudus dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Bupati Sam’ani juga menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai kearifan lokal dan keberagaman dalam masyarakat Kudus. Ia menanggapi kehadiran boneka-boneka raksasa yang melambangkan kearifan lokal tiap kecamatan.

“Boneka-boneka ini menggambarkan kearifan lokal masing-masing. Ini perlu kita dukung, karena dengan kearifan lokal, budaya, ekonomi dan ketertiban sosial akan terjaga dengan baik,” jelasnya.

PERFORM: Salah satu peserta karnaval budaya tengah menampilkan tarian di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Ia menekankan, tema besar HUT Kudus yang diangkat tahun ini yakni Harmoni dalam Toleransi. Menurutnya, masyarakat Kudus terdiri dari beragam agama, budaya dan karakteristik yang berbeda.

“Kudus ini masyarakatnya beragam. Ada yang berbeda agama, budaya dan karakteristik. Tapi semua kita lebur dalam harmoni dan toleransi. Yang penting saling menyayangi, menghargai dan gotong royong membangun daerah,” ucapnya.

Sedangkan, seluruh kegiatan ini akan dievaluasi dan dikembangkan untuk tahun-tahun berikutnya. “Nanti akan kita lihat potensi-potensi budaya lain yang bisa ditampilkan. Bukan hanya Tari Kretek atau Tari Jenang, tapi lebih banyak kasanah budaya yang bisa kita angkat,” imbuhnya.

APIK: Salah satu peserta tengah menunjukkan penampilan di hadapan Bupati Kudus, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah menambahkan, festival ini juga menjadi ajang kompetisi yang diikuti 23 peserta dari berbagai tingkatan. Dengan dua kategori kejuaraan tingkat SMP dan umum.

“Untuk kategori SMP, juara diraih SMP 1 Bae, SMP 1 Gebog dan SMP 1 Dawe. Sedangkan, kategori umum diraih oleh Kecamatan Gebog, Kecamatan Bae dan Kecamatan Kaliwungu,” paparnya.

Ia menegaskan, kegiatan ini dirancang untuk mengangkat potensi seni budaya dan kearifan lokal ke panggung yang lebih luas. “Tujuannya untuk mengenalkan budaya Kudus lebih luas dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan,” tandasnya. (uma/sam)