Inovasi Pot Ramah Lingkungan Antarkan SMA 2 Rembang Juara 1 LKTIN

BERFOTO: Tim LKTIN SMA 2 Rembang berfoto membawa piala usai perlombaan di Undip, Sabtu (11/10). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Prestasi membanggakan diraih pelajar SMA Negeri 2 Rembang dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro (FPP Undip). Tim dari SMA Negeri 2 Rembang berhasil menyabet Juara 1 dalam kategori umum. Sekolah ini menyisihkan puluhan peserta dari berbagai SMA dan MA se-Indonesia.

LKTIN FPP Undip 2025 ini diikuti oleh ratusan tim dari seluruh Indonesia. Dari sekitar 116 abstrak yang masuk, disaring menjadi 80 tim untuk pengumpulan full paper. Setelah proses seleksi ketat, hanya 10 finalis yang lolos ke tahap presentasi di kampus Undip.

“Kami sangat bersyukur, SMA 2 Rembang bisa jadi juara satu. Ini kategori umum, jadi bersaing langsung dengan SMA dan MA se-Indonesia,” kata Obimita Ika Permatasari, guru pendamping tim.

Tim SMA 2 Rembang mengangkat tema Poling: Politik Ramah Lingkungan dalam karya ilmiahnya. Mereka menciptakan pot ramah lingkungan berbahan dasar limbah tulang ikan dan serabut siwalan.

Dua jenis limbah ini khas dari Kabupaten Rembang. Pot ini juga dapat langsung ditanam ke dalam tanah karena sifatnya yang biodegradable.

“Dari dua limbah itu, kami teliti kandungannya. Ternyata tulang ikan mengandung unsur NPK yang bagus untuk tanaman, dan serabut siwalan mengandung selulosa yang membuat pot menjadi kokoh,” jelasnya.

Oplus_16908288

Setelah serangkaian uji coba, tim menemukan komposisi terbaik untuk pot ramah lingkungan adalah 50 persen tulang ikan dan 50 persen serabut siwalan. Inovasi ini juga mendukung program lingkungan di sekolah serta prinsip zero waste. Yaitu mengolah limbah tanpa menghasilkan limbah baru.

“Kekuatan karya kami ada pada nilai keberlanjutan. Kami memanfaatkan potensi lokal dari Kabupaten Rembang dan mengubah limbah jadi produk ramah lingkungan yang fungsional,” tambahnya.

Selain itu, inovasi ini juga relevan dengan program Adiwiyata yang sedang dijalankan oleh SMA 2 Rembang. Pot hasil karya siswa sudah digunakan secara langsung di sekolah sebagai pengganti polybag konvensional.

“Pot kami bisa langsung ditanam ke tanah, tidak perlu disobek seperti polybag plastik. Ini juga bagian dari upaya sekolah mengurangi sampah plastik,” ujarnya

Mengenai proses persiapan, Obimita menjelaskan, tim siswa membutuhkan waktu sekitar dua hingga dua setengah bulan untuk menyusun karya tulis dan membuat prototipe. Koordinasi dilakukan di sela-sela jam istirahat, sepulang sekolah, dan pada Sabtu.

“Kami ingin membuktikan bahwa siswa bisa berprestasi dan berkarya tanpa harus mengorbankan banyak jam belajar,” paparnya. (uma/fat)