Per September 2025, angka stunting di Tuwel berhasil ditekan drastis menjadi 13,3 persen, sebuah prestasi yang berhasil menempatkan Tuwel di bawah rata-rata nasional.
“Penurunan stunting dari 13,5 persen menjadi 13,3 persen. Sebelum ada Tanoto Foundation tinggi, 28 persen makanya kami jadi lokus stunting tahun 2021. Jadi sekarang kita di bawah nasional,” jelas Saeful dengan nada bangga, memerinci perjuangan yang membuahkan hasil.
Dari total 673 balita di Tuwel, saat ini 90 anak teridentifikasi stunting, turun satu kasus dari bulan sebelumnya. Sebuah kemajuan yang mungkin kecil secara statistik, namun sangat bermakna bagi kehidupan setiap anak yang terselamatkan.
Rumah Anak SIGAP kini menjadi denyut jantung perubahan di Tuwel. Sebanyak 51 anak aktif terbagi dalam empat kelas. Di sini, mereka tidak sekadar bermain. Mereka distimulasi kemampuan bahasanya, motorik halus dan kasar, serta kognisinya. Perubahan itu terasa.
“Dulu saat pertama datang banyak yang menangis dan tidak mau bergaul, sekarang mereka sudah berani maju dan bermain dengan teman-temannya,” ungkap Saeful, tersenyum.

Edukasi juga diberikan kepada orang tua melalui ‘Kuliah Umum’ yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Acara ini selalu ramai dihadiri. Narasumber dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan hingga Puskesmas memberikan ilmu tentang kesehatan dan gizi anak.
“Kalau melihat anak dulu digendong ibunya sekarang bisa jalan sendiri, saya senang. Kalau kuliah umum pasti ramai, orang tua dapat ilmu tentang pengasuhan,” akunya.
Di balik angka dan grafik, tersimpan kisah-kisah pengharuan yang menjadi bukti kesuksesan program ini.
Saeful bercerita tentang seorang anak yang lahir prematur. Berat badannya tak kunjung naik meski telah diberi asupan. Setelah didampingi dan dianjurkan tes Mantoux, terungkap anak tersebut positif terpapar TBC.
“Akhirnya dapat pengobatan selama 6 bulan. Kita suruh ikut di sini dan alhamdulillah berat badannya naik. Ternyata sumber penularannya dari neneknya yang serumah,” ujarnya.










