Saeful Muslimin, Kepala Desa yang Menyalakan Pelita di Tengah Bayangan Stunting

AKRAB: Kepala Desa Tuwel, Saeful Muslimin saat bermain bersama salah satu anak di Rumah Anak SIGAP yang berlokasi di Balai Desa Tuwel. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

TEGAL, Joglo Jateng – Langkah Saeful Muslimin selalu mantap setiap kali menapaki pelataran Rumah Anak SIGAP di usianya yang menginjak 61 tahun.

Bagi anak-anak di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, pria berperawakan sederhana ini bukan sekadar kepala desa, melainkan “Bapak” yang telah menghadirkan rumah kedua tempat mereka belajar, bermain, dan tumbuh.

Perjalanan Saeful dengan Rumah Anak SIGAP adalah kisah tentang komitmen yang tak kenal menyerah. Ketika program kerja sama dengan Tanoto Foundation resmi berakhir pada 2024, banyak yang mengira Ruah Anak SIGAP akan tutup. Tapi Saeful punya keyakinan lain.

“Kalau sudah berjalan baik, sayang kalau berhenti. Ini bukan sekadar program, tapi masa depan anak-anak,” kata Saeful.

Dengan dukungan penuh masyarakat melalui musyawarah desa, Saeful mengalokasikan Rp108 juta dari Dana Desa 2025 untuk program kesehatan.

MEMASTIKAN: Kepala Desa Tuwel, Saeful Muslimin saat memantau Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Rumah Anak SIGAP. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Anggaran itu digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk operasional Rumah Anak SIGAP, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Bina Keluarga Balita (BKB) hingga Kafetaria Sehat (Kafeta). Yakni tempat anak-anak gizi kurang mendapat tambahan nutrisi setiap hari. Bahkan Kafeta milik Desa Tuwel ini sudah memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS).

“Anak-anak yang masuk kategori gizi kurang, kita kirim makanan sehat setiap hari. Kita pantau, habis dimakan atau tidak. Kalau tidak, kita cari tahu alasannya. Ada konseling juga untuk orang tuanya,” jelasnya.

Perjuangan Saeful bukan tanpa alasan. Dahulu, Tuwel adalah lokus stunting. Pada 2021, angka stunting di desa ini menyentuh level yang memprihatinkan, yakni 28 persen. Setiap dari empat anak, lebih dari satu di antaranya berisiko memiliki masa depan yang terhambat akibat kekurangan gizi.

Namun, gelombang perubahan mulai terasa. Berkat intervensi yang terfokus dan berkelanjutan melalui Rumah Anak SIGAP, grafik itu perlahan namun pasti berbalik arah.