Saeful Muslimin, Kepala Desa yang Menyalakan Pelita di Tengah Bayangan Stunting

AKRAB: Kepala Desa Tuwel, Saeful Muslimin saat bermain bersama salah satu anak di Rumah Anak SIGAP yang berlokasi di Balai Desa Tuwel. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Ada pula cerita tentang orang tua yang awalnya menolak saat dikunjungi oleh kader. Penolakan itu berubah menjadi penerimaan setelah mereka melihat perubahan nyata pada tumbuh kembang anaknya.

“Tapi sekarang mereka senang sekali saat kita datang. Mereka mau diajak konsultasi ke puskesmas dan antusias mengikuti Rumah Anak SIGAP. Anaknya yang dulu gizi buruk, sekarang sudah sehat,” beber Saeful.

Di usianya yang ke-61, motivasi Saeful Muslimin telah teruji waktu. Memimpin sejak 1998, pria ini mengaku bukan didorong oleh materi, melainkan semata pengabdian dan kebanggaan untuk melayani masyarakat.

“Dua periode pertama ini, bahkan tidak ada bayaran. Semuanya pengabdian,” kenangnya.

Komitmennya terhadap prioritas kesehatan di Tuwel adalah wujud dari keyakinannya bahwa anak-anak adalah cikal bakal kemajuan desa.

Ia selalu mengedepankan musyawarah desa dalam menentukan prioritas anggaran, di mana sektor kesehatan selalu menjadi perhatian utama, tanpa mengabaikan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat lainnya.

“Bagi saya, ini adalah program pemerintah dan masa depan anak-anak yang harus kita jaga,” tegasnya sekali lagi.

Keteguhan hati Saeful Muslimin membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang visioner, komitmen yang kuat, dan pemanfaatan dana desa yang tepat sasaran, desa bukanlah sekadar objek pembangunan. Melainkan aktor utama yang mampu mengukir masa depannya sendiri.

Dari Tuwel, sebuah cerita tentang perlawanan terhadap stunting ditulis dengan tinta pengabdian yang tulus. (luk/adf)