Burhan mencontohkan, seperti di kegiatan ekonomi, tidak hanya di isi bazar UMKM, tetapi perlu menjadi ruang yang aman dan mendidik bagi anak. “Konsepnya tiga pilar, yaitu permainan tradisional dan kreatif, konsultasi bagi anak yang memiliki masalah, serta ruang baca,” jelasnya, Kamis (30/10).
Ia menjelaskan, gerakan literasi di Jepara akan terus diperkuat melalui keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di setiap desa. TBM di Jepara tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang interaksi sosial yang melibatkan pendongeng, sastrawan, psikolog, akademisi, hingga pegiat permainan tradisional.
“Perangkat lengkap inilah yang membedakan gerakan literasi kami dengan program pemerintah,” ujarnya.
Saat ini, dari total 36 TBM di Jepara, tercatat 23 di antaranya masih aktif menjalankan berbagai kegiatan literasi. Sementara sisanya akan terus didorong agar kembali aktif melalui pendampingan dan kolaborasi lintas komunitas.
Ali juga menambahkan, ke depan FTBM akan memperkuat sinergi dengan Bunda Literasi dan pemerintah daerah agar gerakan literasi di Jepara semakin terarah dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Kemarin sudah direspon baik oleh Bunda Literasi, akan dikolaborasikan dengan kegiatan ‘Goes to Bulan’ (Program Bunda Literasi),” tandasnya. (oka/gih)










