KUDUS, Joglo Jateng – Kawasan Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, kini perlahan menanggalkan citranya sebagai wilayah gundul. Setelah bertahun-tahun kering pascareformasi, kawasan ini mulai berubah menjadi hamparan hijau yang menyejukkan mata.
Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Upaya serius untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut telah digerakkan secara masif oleh Pemerintah Desa Terban bersama kelompok petani penggarap sejak tahun 2020. Perlahan namun pasti, Patiayam kini menjelma sebagai hutan buah yang memberi harapan baru, baik bagi kelestarian lingkungan maupun ekonomi warga.
Inisiatif Swadaya Warga
Kepala Desa Terban, Supeno, menuturkan bahwa gagasan penghijauan ini bermula dari inisiatif swadaya warga. Pada awal 2020, ia mengajak para petani penggarap khususnya mereka yang berada di area izin pemanfaatan Perhutanan Sosial Patiayam untuk menanam bibit buah secara mandiri.
“Awalnya kami mencoba menghidupkan kembali Patiayam dari swadaya. Bibit dibeli sendiri dan pekerjaan dilakukan tanpa bantuan anggaran pemerintah. Saya sendiri juga menanam bibit untuk ketahanan pangan satwa. Tahun kemarin, sebagian buah sudah mulai dinikmati hewan-hewan hutan,” jelas Supeno.

Dukungan CSR dan Perubahan Pola Tanam
Gerakan kecil tersebut mendapat dukungan besar pada tahun 2022. Pihak swasta, Djarum Foundation, melalui program penghijauannya menyalurkan Corporate Social Responsibility (CSR) senilai Rp5 miliar dalam bentuk bibit buah-buahan. Mereka juga memfasilitasi pembentukan kelompok tani yang beranggotakan 25–30 orang serta mengakomodasi jenis bibit yang diinginkan warga.
“Hasilnya, 250 hektare lahan berhasil ditanami pohon buah di tahun tersebut,” terangnya. Program kemudian berlanjut pada 2023 dengan tambahan penanaman di area seluas 100 hektare. Tahun ini, proses penyulaman dan penanaman tahap berikutnya sudah berjalan sejak awal November.
Menurut Supeno, kegagalan penghijauan di masa lalu terjadi karena ketidaksesuaian jenis tanaman. Tanaman keras seperti jati dan mahoni yang ditanam pemerintah kala itu sulit bertahan karena faktor ekonomi petani.
“Petani tidak mungkin menunggu lima sampai lima puluh tahun baru panen jati. Jadi pohonnya mati atau akar lepas, tinggal berdiri saja. Namun, pohon buah berbeda. Warga menyambut antusias karena hasilnya lebih cepat,” ungkapnya.
Dampak Ekonomi dan Ekologis
Setelah lima tahun berjalan, tanaman buah di lereng Kaligoro kini telah membentuk hamparan hijau menyerupai gunung penuh vegetasi. Perubahan ini turut menggeser pola tanam petani yang sebelumnya hanya bergantung pada jagung. Kini, mereka mulai beralih ke tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti kopi, jahe, kencur, dan tanaman rimpang lainnya di bawah tegakan pohon buah.
“Sudah ada yang mulai panen kopi. Petani senang merawat tanaman buah karena hasilnya lebih cepat dan stabil,” jelas Supeno.
Secara ekologis, pepohonan yang rimbun kini efektif menahan tanah, mencegah longsor, dan mengurangi risiko banjir. Bahkan, beberapa lahan yang ditinggalkan penggarap karena gagal panen jagung, kini telah kembali menjadi hutan alami.
Keberhasilan ini sempat dilaporkan Supeno kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kala itu, Siti Nurbaya, yang memberikan apresiasi positif karena adanya sinergi antara masyarakat dan pihak swasta tanpa membebani anggaran negara. (adm/fat)










