Selain itu, keuntungan usaha dialokasikan untuk CSR desa, pembangunan fasilitas umum, perbaikan lingkungan, hingga beasiswa pendidikan.
Komunitas tersebut, menjadikan wisata sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.
“Wisata alam juga harus aman dan memberikan rasa percaya kepada pengunjung. Semua pemandu wisata kami, wajib bersertifikat water rescue dan setiap tiket sudah termasuk asuransi. Kami ingin wisatawan senang, tapi juga pulang dengan selamat,” tegasnya.
Standar ini menjadi pembeda Ketenger dengan banyak desa wisata lain, dan menjadi alasan tumbuhnya kunjungan wisatawan setiap tahun.
KALPATARU
Kerja keras dan dedikasi Purnomo terhadap lingkungan juga mendapat pengakuan di tingkat Provinsi Jawa Tengah dan nasional.
Ia meraih Juara 1 Kalpataru Perintis Lingkungan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2020, serta Juara Penyuluh Kehutanan selama tiga tahun berturut-turut, yakni tahun 2022, 2023 dan 2024.
Meski begitu, ia tetap merendah dan menyebut keberhasilan ini adalah hasil gotong royong masyarakat.

“Kalau saya sendirian, tidak mungkin bisa seperti ini. Ini semua karena warga mau bergerak bersama. Saya hanya mengarahkan,” tuturnya.
Melalui ekowisata berbasis koperasi, keteguhan melestarikan alam, serta distribusi manfaat yang merata, Desa Ketenger tumbuh sebagai contoh nyata bahwa ekonomi dan kelestarian lingkungan tidak harus saling bertentangan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa, menjaga hutan itu bukan menghambat ekonomi. Justru ekonomi yang baik datang kalau alamnya dijaga. Itu yang kami buktikan di Ketenger,” kata Purnomo.
Dengan semangat kebersamaan, lanjutnya, Ketenger kini bukan hanya destinasi wisata, tetapi simbol harapan bahwa desa dapat membangun masa depan tanpa harus mengorbankan alamnya.
“Kami siap berkolaborasi dengan semua pihak, baik pemerintahan maupun swasta,” ujarnya menutup pembicaraan. (mrn).










