LMDH Ketenger, Membangun Wisata Tanpa Mengorbankan Alam

Wisata curug yang jadi andalan Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

BANYUMAS, Joglo Jateng – Warga Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, bisa menjadi contoh inspiratif dalam menjaga hutan mereka.

Sebuah komunitas desa yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), sukses membangun ekonomi, menjaga lingkungan, dan menggerakkan masyarakat secara mandiri di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap isu deforestasi di Indonesia.

Purnomo (49), Ketua LMDH, berhasil mengajak masyarakat setempat untuk bertransformasi dari desa biasa menjadi pusat ekowisata berkelanjutan yang dikelola secara profesional dan inklusif.

Selain itu, Purnomo juga menjadi Ketua Koperasi Multi Pihak Mitra Jenggala, yang menjadi pengelola dengan model unik, karena tidak dimulai dari modal finansial, melainkan dari kekuatan kolektif warga.

Koperasi ini memberi ruang bagi pendiri untuk memiliki saham yang dapat diwariskan, memastikan keberlanjutan usaha sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab lintas generasi terhadap kelestarian alam.

“Keberhasilan ini bermula dari komitmen sederhana terhadap alam. Kami, warga Kalipagu percaya, hutan bukan warisan dari leluhur, tapi titipan untuk anak cucu. Maka cara kami menjaganya bukan dengan larangan, tapi dengan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya, saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Selasa (09/12/2026).

Wisata curug yang jadi andalan Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

Menurutnya, masyarakat akan lebih mudah diajak menjaga hutan ketika mereka merasakan langsung manfaat ekonomi dari kelestarian lingkungan.

Ia mengenang, di awal perjalanan, komunitas tersebut tidak memiliki modal besar.

“Kami memulai semua ini tanpa modal. Yang kami punya hanya kebersamaan, tenaga dan niat baik. Dari situlah usaha ini tumbuh,” ungkapnya.

Kini, koperasi tersebut mengelola berbagai destinasi wisata alam seperti Curug Bayan dan Curug Jenggala sebagai wisata unggulan.

Selain itu, mereka juga mengelola kawasan budaya dan alam lainnya seperti Situs Lemah Wangi, Situs Batur Semende, Situs Batur Nangka, Sendang Pancarasa, Curug Tirtasena Muntu, Curug Cipokol, Curug Penganten, Curug Mertelu, Bukit Cendana, Bukit Rajawali, Curug Bengang dan masih banyak lainnya yang berada dalam pengelolaan langsung koperasi.

Purnomo mengatakan, setiap destinasi dikelola dengan prinsip bahwa manfaatnya harus kembali kepada warga.

Pengelolaan parkir, misalnya, sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat dan hasilnya dialokasikan untuk kas RT, sehingga manfaatnya menyentuh aspek pembangunan lingkungan dan kegiatan sosial di tingkat paling dasar.