KENDAL, Joglo Jateng – Fenomena rob menahun yang terus melanda wilayah pesisir Kabupaten Kendal kini semakin meluas dan mulai berdampak serius pada sektor pertanian. Genangan air laut yang sebelumnya hanya merendam area pertambakan, kini mulai mengintrusi lahan persawahan warga. Akibatnya, para petani tidak lagi dapat menanam padi karena kondisi tanah yang kehilangan kesuburan.
Kondisi memprihatinkan ini memaksa sebagian warga untuk memutar otak dan mengalihkan fungsi lahan mereka. Dari yang semula sawah produktif, kini diubah menjadi tambak ikan agar aset tanah tersebut tetap bisa dimanfaatkan.
Dampak Intrusi Air Laut
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kendal, Hudi Sambodo, menjelaskan bahwa fenomena ini murni akibat intrusi air laut. Warga memilih menabur benih ikan nila dan bandeng di lahan yang terdampak agar tetap mendapatkan penghasilan, meskipun harus mengubah peruntukan lahan mereka.
“Itu intrusi, belum sepenuhnya rob yang merendam tinggi. Namun, daripada warga punya aset tapi tidak bisa digunakan padahal tetap harus membayar pajak, akhirnya sawah ditaburi ikan nila dan bandeng,” ujar Hudi, Selasa (9/12/2025).
Puluhan Hektare Lahan Terdampak
Hudi merinci, setidaknya ada sekitar 80 hektare lahan tambak dan eks-sawah di pesisir Kendal yang kini terdampak rob menahun. Wilayah yang mengalami dampak paling parah tercatat berada di Desa Wonosari dan Desa Kartikajaya.
Meski demikian, ia memastikan bahwa beberapa wilayah pesisir lain masih relatif aman. “Jumlahnya mungkin puluhan tambak yang terdampak signifikan. Fokusnya ada di Wonosari dan Kartikajaya. Sementara untuk wilayah Rowosari dan Kangkung kondisinya masih terbilang aman dari genangan,” terangnya.
Upaya Mitigasi dengan Mangrove
Terkait langkah penanganan, Hudi menegaskan bahwa DKP Kendal saat ini tengah memfokuskan upaya pada penanaman mangrove. Langkah ekologis ini dinilai mampu mengurangi intensitas dampak rob, meskipun diakui belum bisa menghentikan masuknya air laut secara total.
“Rob itu butuh penyelesaian menyeluruh dan jangka panjang. Yang kami lakukan saat ini adalah penanaman mangrove sebagai upaya mitigasi, walau memang langkah ini tidak 100 persen menyelesaikan masalah seketika,” pungkasnya. (ags/adf)










