Jepara  

Atasi Gagal Panen Akibat Rob, DKPP Jepara Kembangkan Padi Biosalin

Pemkab Jepara bersama BRIN saat menanam padi Biosalin di sawah pesisir di Desa Suwawal Kecamatan Mlonggo, Selasa (21/12).
SEMANGAT: Pemkab Jepara bersama BRIN saat menanam padi Biosalin di sawah pesisir di Desa Suwawal Kecamatan Mlonggo, Selasa (21/12). (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara mulai mengembangkan padi varietas Biosalin sebagai solusi pertanian di lahan pesisir yang rentan terdampak banjir rob. Program yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini bertujuan agar lahan dengan tingkat salinitas (kadar garam) tinggi tetap produktif.

Uji coba penanaman dilakukan di tiga lokasi rawan rob. Rinciannya, Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo seluas 10 hektare; Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo seluas 10 hektare; dan Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa seluas 2 hektare.

Kepala DKPP Kabupaten Jepara, Mudhofir menjelaskan, padi Biosalin merupakan hasil persilangan galur Ciherang dengan varietas yang memiliki ketahanan terhadap air asin. Terdapat dua jenis yang diuji coba, yakni Biosalin 1 dan Biosalin 2.

“Padi ini memang disiapkan untuk lahan pesisir. Ketika air laut masuk dan kadar garam meningkat, tanaman diharapkan tetap bisa bertahan. Ini menjadi bentuk antisipasi di wilayah yang rawan rob dan abrasi,” ujar Mudhofir, Selasa (30/12).

Potensi Panen Tinggi

Mudhofir memaparkan, lahan pasang surut sebenarnya masih bisa ditanami padi jenis Inpari 32 saat kondisi normal. Namun, varietas tersebut kerap gagal panen saat air laut masuk ke area persawahan.

Penanaman Biosalin telah dimulai sejak pertengahan Desember dengan estimasi masa panen 110 hari atau sekitar awal Maret mendatang. Dari sisi produktivitas, varietas ini dinilai menjanjikan dengan potensi 9,2 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.

“Untuk karakter berasnya, Biosalin 1 cenderung ngepyar (pera), sedangkan Biosalin 2 lebih pulen,” jelasnya.

Selain uji coba varietas, DKPP juga menerapkan skema pemupukan berimbang sesuai rekomendasi BRIN di sebagian lahan. Hasilnya nanti akan dievaluasi untuk menentukan metode paling efektif.

Khusus di Desa Suwawal dan Bandungharjo, disiapkan pula demplot (lahan percontohan) pembenihan seluas 1.000 meter persegi. Langkah ini didampingi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) serta Balai Benih Induk (BBI) Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung kemandirian benih.

Harapan Baru Petani

Inovasi ini disambut antusias oleh petani setempat. Ketua Kelompok Tani Jaya Tiga, Rois, mengakui bahwa rob adalah musuh utama petani pesisir. Tanaman padi biasanya langsung menguning dan mati jika terkena air laut.

“Rob biasanya datang sekitar Januari sampai Februari. Kalau sudah parah, panen bisa gagal. Meski dua tahun terakhir relatif aman, tetap sangat bergantung pada kondisi cuaca,” ujarnya.

Rois menambahkan, lahan uji coba tersebut dulunya merupakan wilayah laut yang kini menjadi daratan (tanah timbul). Ia berharap varietas baru ini bisa menjadi solusi jangka panjang bagi petani di kawasan pesisir.

“Ini masih tahap awal. Hasilnya nanti baru benar-benar bisa dilihat setelah panen,” pungkasnya. (oka/gih)