PEMALANG, Joglo Jateng – Tren penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Pemalang menunjukkan grafik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan rekapitulasi data epidemiologi Dinas Kesehatan (Dinkes), Kasus DBD Pemalang sepanjang tahun 2025 mencatatkan rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Tercatat, total pasien positif DBD menembus angka 116 kasus. Jumlah ini mengalami lonjakan signifikan jika dibandingkan dengan data tahun-tahun sebelumnya. Fenomena cuaca tak menentu disinyalir menjadi biang kerok utama tingginya angka kesakitan ini.
Kepala Dinkes Pemalang Wiji Mulyati, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr Tetie Aida Wati menjelaskan, faktor cuaca ekstrem sepanjang 2025 memicu perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti menjadi lebih masif.
“Walaupun musim kemarau tercatat masih terjadi hujan di sejumlah wilayah terutama kota, atau umumnya disebut kemarau basah. Kemarau basah itu banyak genangan yang jadi sarang perkembangbiakan nyamuk, sehingga kasus tahun kemarin naik,” ujarnya.
Rekor Tertinggi, Nihil Kematian
Meski angka kasus melonjak tajam, Dinkes Pemalang mencatat satu hal positif yakni tidak adanya fatalitas atau kematian akibat DBD sepanjang 2025. Hal ini berbeda dengan tahun 2023 yang mencatatkan satu korban jiwa.
Berikut rincian tren kasus DBD di Pemalang empat tahun terakhir:
- Tahun 2022: 112 kasus.
- Tahun 2023: 50 kasus (1 meninggal).
- Tahun 2024: 71 kasus.
- Tahun 2025: 116 kasus (Rekor tertinggi).
“Pelaksanaan sosialisasi sudah kita masifkan, tetapi memang cuaca sangat menentukan. Tetapi yang kami syukuri tidak ada kasus pasien meninggal karena DBD,” paparnya.
Peta Sebaran Wilayah Rawan
Dr Tetie merinci, sebaran kasus tidak merata di seluruh wilayah. Terdapat dua kecamatan yang menjadi penyumbang kasus terbesar dan perlu mendapat atensi khusus dari masyarakat.
Data sebaran kasus tertinggi meliputi:
- Kecamatan Pemalang: 26 kasus.
- Kecamatan Taman: 26 kasus.
- Kecamatan Petarukan: 20 kasus.
Meningkatnya kasus ini menjadi peringatan bagi warga untuk lebih giat melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), mengingat pola cuaca kemarau basah masih berpotensi menciptakan genangan air yang luput dari pantauan. (fan/sam)










