JEPARA, Joglo Jateng – Guyuran hujan deras sejak pukul 19.00 WIB tak menyurutkan semangat ribuan warga yang memadati area Masjid Baitul Izza, Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Minggu (1/2/26). Mereka tumpah ruah untuk menyaksikan Tradisi Baratan Ratu Kalinyamat, sebuah ritual tahunan yang menjadi ruang perjumpaan antara doa, sejarah, dan semangat kolektif warga Jepara.
Kirab budaya ini digelar untuk mengenang kiprah Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional. Meski cuaca kurang bersahabat, prosesi yang menggabungkan nilai religi dan budaya ini tetap berlangsung khidmat dan penuh antusiasme masyarakat.
Prosesi Kirab dan Lampion Impes
Usai rangkaian doa bersama, barisan pengawal sapu jagat membuka jalur prosesi dari titik awal di Masjid Baitul Izza. Kirab kemudian bergerak perlahan dengan iringan tandu kereta kencana yang membawa simbol Ratu Kalinyamat.
Di belakang kereta kencana, rombongan sesepuh desa, danyang, prajurit, hingga para penari berjalan beriringan. Suasana semakin syahdu dengan cahaya dari obor dan lampion impes yang dibawa peserta kirab. Rombongan mengitari desa sebelum akhirnya mencapai garis akhir di Lapangan Desa Pandean Bandungrejo.
Teatrikal Tapa Wudo Singgang Rambut
Setibanya di lokasi finish, acara dilanjutkan dengan sajian atraksi budaya dan teatrikal Tapa Wudo Singgang Rambut. Pertunjukan kolosal ini menggambarkan perjuangan Ratu Kalinyamat dalam melawan penjajahan Portugis, sekaligus menampilkan simbol perlawanan dan pengorbanan sang ratu di masa lalu.
Ketua Panitia Penyelenggara, Asy’ari Muhammad menjelaskan, tradisi Baratan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud kekompakan masyarakat dalam meneladani nilai perjuangan Ratu Kalinyamat.
“Semangat, keberanian, dan kegigihan Ratu Kalinyamat perlu diwariskan, terutama kepada generasi muda. Karena itu, penampil malam ini didominasi pelajar perempuan SMA se-Kecamatan Kalinyamatan,” ucap Asy’ari.
Ia menambahkan, melalui teatrikal tersebut, masyarakat diajak kembali mengingat sejarah saat Ratu Kalinyamat membantu Kerajaan Johor pasca runtuhnya Malaka akibat serangan Portugis pada tahun 1511.
“Setelah menjalani sumpah Tapa Wudo dengan meninggalkan kemewahan, Ratu Kalinyamat kembali memimpin kerajaan, membangun kekuatan militer di Pelabuhan Jepara, dan mengirim pasukan untuk membantu Kerajaan Johor,” ungkapnya.
Nguri-uri Kearifan Lokal Jepara
Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Jepara, Diyar Susanto mengungkapkan, tradisi ini merupakan bagian dari upaya nguri-uri kearifan lokal. Menurutnya, Baratan digelar setiap bulan Sya’ban dan kerap bertepatan dengan momentum malam Nisfu Sya’ban.
“Tradisi Baratan pertama kali tumbuh di Kecamatan Kalinyamatan. Pemerintah bersama masyarakat berupaya menjaga agar tradisi ini terus hidup dan tidak tergerus zaman,” kata Diyar.
Ia menambahkan, penyelenggaraan Baratan dapat dilakukan bergilir di wilayah Kecamatan Kalinyamatan sebagai bentuk pemerataan pelestarian budaya. Diyar juga menekankan kekayaan tradisi Jepara lainnya seperti Jembul Tulakan, Perang Obor Tegalsambi, hingga Memeden Gadu yang harus terus dijaga.
Pemeran Ratu Kalinyamat, Efel Aprilia Maharani, mengaku bangga dapat memerankan sosok sang ratu. Perempuan asal Desa Tempur, Jepara ini tak menyangka terpilih membawakan figur bersejarah yang sarat makna perjuangan.
“Ini tradisi yang sakral, jadi harus dijalani dengan niat baik. Saya sangat bersyukur bisa dipercaya memerankan Ratu Kalinyamat,” ujarnya. (oka/gih)










