Jepara  

Tradisi Nyadran Jepara: Penjual Bunga di Makam Mbah Shidiq Raup Omzet Jutaan Rupiah

Deretan penjual bunga dadakan melayani peziarah saat tradisi Nyadran di kawasan Makam Mbah Shidiq, Jepara
SEDIAKAN: Penjual bunga dadakan di sepanjang jalan menuju Makam Mbah Shidiq, Kalinyamatan, Selasa (17/2). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Menjelang bulan suci Ramadan, Tradisi Nyadran Jepara membawa berkah melimpah bagi warga lokal. Di kawasan makam Mbah Shidiq, Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, puluhan penjual bunga dadakan mampu meraup omzet hingga jutaan rupiah per hari berkat membludaknya peziarah yang ingin mendoakan leluhur.

Pantauan di lokasi pada Selasa (17/2/26), suasana jalan menuju kompleks pemakaman tampak padat. Sekitar 20-an pedagang bunga berjejer mendirikan lapak meja sederhana. Tangan mereka cekatan membungkus aneka bunga segar ke dalam plastik untuk dijajakan kepada peziarah yang terus berdatangan.

Salah satu penjual bunga asal Desa Robayan, Sri Sugiarti mengaku sengaja membuka lapak dadakan untuk mengalap berkah ekonomi tahunan ini.

“Mulai dari Kamis (12/2) sampai Rabu (18/2) besok saya jualan. Alhamdulillah ramai, banyak pembeli karena memang sudah jadi tradisi bagi warga di sini,” ujarnya sembari melayani pembeli, Selasa (17/2/26).

Harga Melati Melonjak Drastis

Sri menjelaskan, tingginya permintaan membuat harga kulakan bunga dari petani ikut melambung. Meski demikian, antusiasme warga untuk membeli bunga tabur tidak surut. Paket bunga tabur eceran dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp 5.000 per kantong plastik.

Berikut rincian lonjakan harga bahan baku bunga di tingkat pedagang:

  • Bunga Melati: Tembus Rp 750.000 per kilogram.
  • Bunga Kenanga: Rp 160.000 per kilogram.

Volume penjualan Sri pun terbilang fantastis. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan stok bunga dalam jumlah besar.

“Dalam sehari bisa habis sekitar 4 kilogram bunga Mawar, bunga Kenanga bisa sampai 13,5 kilogram,” ungkapnya. Berkat volume penjualan ini, omzet jutaan rupiah bisa ia kantongi dalam sehari.

Tren Bunga Ikat Diminati

Berkah serupa juga dirasakan Beti Etik Astuti. Berbeda dengan Sri yang fokus pada bunga tabur, Beti memilih menjajakan bunga ikat atau bucket. Satu ikat besar berisi variasi bunga seperti Mawar, Kantil, Tristan, Telasih, Saka, hingga Gading dijual seharga Rp 25.000.

Menurut Beti, tren peziarah kini mulai bervariasi. Tidak hanya menabur bunga, banyak peziarah yang lebih suka meletakkan bunga tangkai di atas pusara.

“Karena sekarang, nyekar itu tidak semua pakai bunga tabur. Tapi juga pakai bunga yang masih ada gagangnya. Selain untuk nyekar, bisa juga buat keperluan lainnya,” jelas Beti.

Dalam sehari, Beti mampu menjual rata-rata 20 ikat besar. Momentum Nyadran di Makam Mbah Shidiq ini membuktikan bahwa tradisi leluhur tidak hanya merawat ingatan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di Jepara. (oka/gih/rds)