Nikmatnya Bubur India Masjid Pekojan, Takjil Legendaris Khas Semarang

Ratusan warga dan jemaah sedang antre berburu takjil legendaris Bubur India di halaman Masjid Jami Pekojan Semarang untuk menu berbuka puasa.
NIKMAT: Warga Barito Semarang berburu bubur India Masjid Jami Pekojan Semarang, Kamis (19/2). (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Semerbak aroma rempah yang menguar dari area dapur Masjid Jami Pekojan kembali menjadi penanda khas datangnya bulan Ramadan di Kota Semarang. Setiap sore menjelang waktu berbuka, ratusan warga dan jemaah berbondong-bondong memburu Bubur India Masjid Pekojan, menu takjil legendaris yang hanya hadir setahun sekali.

Antrean tertib selalu terlihat menghiasi halaman masjid. Tak hanya dimakan di tempat, sebagian warga bahkan rela membawa wadah (rantang) sendiri dari rumah agar bisa menikmati kehangatan bubur tersebut bersama keluarga.

Racikan 21 Kilogram Beras dan Rempah Pilihan

Di balik cita rasanya yang sangat khas dan ngangenin, proses memasak bubur ini dilakukan secara gotong royong oleh pengurus masjid dan warga setempat.

Juru masak Bubur India, Achmad Paserin (55) menjelaskan bahwa untuk menyajikan hidangan berbuka ini, ia membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar setiap harinya.

“Setiap tahun kami menyajikan sekitar 200 porsi atau 200 mangkuk. Hari ini saja kami memasak 21 kilogram beras. Porsinya menyesuaikan dengan banyak atau tidaknya jemaah,” ujarnya sambil mengaduk bubur yang terus mengepul dari dalam kuali besar, Kamis (19/2/2026).

Menurut Achmad, perbedaan utama takjil legendaris Semarang ini dengan bubur pada umumnya terletak pada kekayaan bumbu rempahnya. Berikut adalah komposisi bahan yang dimasukkan ke dalam racikan rahasia tersebut:

  • Beras putih (21 kg)
  • Rempah inti (jahe, kayu manis, sereh)
  • Bumbu aromatik (daun salam, daun pandan)
  • Sayuran (wortel, daun bawang, bawang putih)
  • Santan kental dan bumbu khusus khas Pekojan

“Kalau bubur biasa paling hanya santan sama garam. Tapi kalau ini sangat kaya akan rempah-rempahnya,” imbuhnya.

Tradisi Turun-temurun yang Bikin Kangen

Achmad menceritakan, tradisi memasak bubur ini sudah berlangsung sangat lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Masjid Jami Pekojan Semarang. Konon, tradisi ini berawal dari kebiasaan menjamu para musafir (pedagang asal Gujarat/India) yang singgah di masjid dan membutuhkan hidangan sederhana nan menghangatkan tubuh untuk berbuka puasa.

Hingga kini, kenikmatan bubur tersebut sukses memikat hati banyak orang, termasuk Agus Wijayanto (51), warga asal kawasan Barito, Semarang. Ia mengaku tidak pernah absen berburu takjil ke masjid ini setiap kali Ramadan tiba.

“Enak sih, pokoknya mantap dan tidak mengecewakan. Ini sudah ketiga kalinya saya ke sini. Rasanya beda dengan yang lain dan sangat ngangenin. Jadi setiap Ramadan wajib ke sini,” tutur Agus.

Satu porsi mangkuk bubur yang ia dapatkan biasanya cukup untuk disantap bersama keluarganya yang berjumlah empat orang. Lebih dari sekadar menu berbuka, Bubur India telah menjelma menjadi simbol perekat silaturahmi yang mempertemukan warga dari berbagai sudut Kota Semarang dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. (hfh/gih/rds)