PURWOREJO, Joglo Jateng – Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo menyimpan sebuah mahakarya bersejarah yang menjadi daya tarik utama wisata religi di Jawa Tengah. Di serambi masjid ini, bertengger kokoh Bedug Pendowo Purworejo, instrumen penanda waktu salat yang diakui sebagai salah satu bedug terbesar di dunia sejak era pasca-Perang Diponegoro.
Berada tepat di sebelah barat Alun-Alun Purworejo, Kampung Kauman, Kelurahan Sindurjan, masjid yang didirikan pada 1830 Masehi ini tak pernah sepi peziarah. Kehadiran Bedug Pendowo menjadi magnet bagi para jamaah dari dalam maupun luar daerah, yang penasaran dengan wujud asli dan sejarah alat tabuh raksasa tersebut.
Sejarah Pembuatan dari Pohon Jati Bercabang Lima
Ketua Takmir Masjid Agung Purworejo, KH Najib Sahfrudin menceritakan, bedug raksasa ini rampung dibuat pada 1834 Masehi. Inisiatif pembuatannya datang langsung dari Bupati pertama Purworejo, Tjokronegoro.
“Setelah membuat alun-alun, beliau berinisiatif membuat bedug dari kayu jati gelondongan utuh asal Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi. Lokasi pohon jati itu kini menjadi Puskesmas Bragolan,” tutur Najib saat dijumpai di area masjid, Senin (23/2/26).
Nama ‘Pendowo’ sendiri merujuk pada keunikan material utamanya. Pohon jati raksasa tersebut memiliki lima cabang (pendowo), di mana empat cabangnya digunakan sebagai soko guru atau tiang penyangga utama bangunan masjid, dan batang utamanya disulap menjadi bedug.
Karena ukurannya yang sangat masif, konon proses pemindahannya ke masjid harus dipimpin oleh tokoh agama Kiai Irsyad dan dilakukan secara bertahap.










