Demak  

Siklus Peziarah Masjid Agung Demak Saat Ramadan: Bagi Seribu Takjil hingga Persinggahan Pemudik

Seorang pria berdiri mengamati etalase peninggalan sejarah Islam di Museum Masjid Agung Demak.
MENGAMATI: Salah satu pengunjung terlihat sedang mengamati koleksi peninggalan sejarah yang tersimpan di dalam Museum Masjid Agung Demak, belum lama ini. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

Seribu Takjil dan Ruang Persinggahan Pemudik

Meski siang hari terasa sunyi, denyut kehidupan kembali berdetak kencang saat sore menyapa. Pengelola masjid secara rutin menyediakan dan membagikan sekitar seribu porsi hidangan berbuka puasa di sisi kanan bangunan setiap harinya.

“Sore hari itu waktu paling ramai selama Ramadan di Demak. Banyak yang datang mencari takjil, lalu berbuka bersama di sini,” ungkap Khusni.

Siklus keramaian ini akan kembali melonjak tajam saat mendekati Hari Raya Idulfitri. Para perantau dari Jakarta maupun kota besar lainnya biasanya menyempatkan diri singgah di masjid yang dibangun oleh Raden Fatah bersama Wali Songo sekitar 560 tahun lalu tersebut.

“Biasanya menjelang Lebaran itu mulai ramai lagi. Pemudik mampir, beribadah, dan berzakat di sini,” tuturnya.

Usia bangunan yang mencapai lebih dari lima abad menjadikan situs peninggalan Wali Songo ini memiliki daya pikat emosional yang amat kuat.

“Usia dan sejarah itu menjadikan Demak bukan sekadar tujuan wisata religi, melainkan ruang perenungan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini,” pungkasnya. (adm/iza/rds)