DEMAK, Joglo Jateng – Suasana lengang pada pagi hari dan keramaian menjelang waktu berbuka menjadi pemandangan khas di kawasan Masjid Agung Demak selama bulan suci Ramadan. Pusat syiar Islam tertua di tanah Jawa ini tidak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga jantung tradisi masyarakat dalam menyambut bulan puasa.
Pengurus Masjid Agung Demak, Khusni Mubarak, menuturkan bahwa kompleks tersebut menyimpan ekosistem religi yang saling melengkapi. Terdapat tiga area utama yang senantiasa menjadi magnet pengunjung, yakni bangunan utama masjid, Museum Masjid Agung Demak, serta kompleks makam raja dan wali.
Menariknya, puncak perputaran wisata religi Demak justru tidak terjadi saat bulan puasa berlangsung. Lonjakan peziarah dari berbagai daerah biasanya membeludak pada dua bulan sebelum Ramadan tiba.
Tradisi Ziarah dan Penurunan Kunjungan Siang Hari
Pada periode menjelang puasa tersebut, masyarakat berbondong-bondong datang untuk memanjatkan doa dan menyerap nilai-nilai sejarah keislaman. Bagi masyarakat luas, kunjungan ke tempat ini merupakan bagian dari persiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci.
“Kalau bicara siklus pengunjung, justru yang paling ramai itu dua bulan sebelum Ramadan,” ujar Khusni.
Kondisi serupa juga terasa di area museum yang menyimpan berbagai koleksi peninggalan sejarah Islam Jawa. Namun, ketika memasuki bulan puasa, ritme kunjungan pada siang hari menurun drastis karena warga setempat memilih berpusat di lingkungannya sendiri.
“Di bulan puasa, kunjungan memang menurun. Masyarakat lebih fokus beribadah di rumah dan lingkungan masing-masing,” jelasnya.










