Jepara  

19 Siswa SMP Ikuti Pelatihan Mengukir demi Lestarikan Warisan Jepara

Seorang pelajar berseragam SMP tampak serius memegang alat pahat untuk mengukir pola di atas selembar kayu.
FOKUS: Pelajar Jepara saat mengikuti pelatihan mengukir Jepara di Galeri Jepara Wood Carving, Pantai Kartini, Rabu (1/4/2026). (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Sebanyak 19 siswa sekolah menengah pertama (SMP) mengikuti pelatihan mengukir di Jepara sebagai langkah nyata membentengi warisan lokal dari ancaman krisis regenerasi. Kegiatan edukatif ini digelar untuk merespons kian merosotnya minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional yang menjadi urat nadi “Kota Ukir”.

Program bertajuk Kelas Pelajar Mengukir ini diinisiasi oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara. Pelatihan tersebut diselenggarakan di Galeri Jepara Wood Carving, kawasan Pantai Kartini, pada Rabu (1/4/2026).

Langkah ini merupakan agenda lanjutan setelah pelatihan serupa sukses menjaring 359 peserta pada rentang waktu Desember 2025 hingga Februari 2026 lalu.

Sayangnya, partisipasi sekolah pada sesi kali ini terbilang minim. Hal ini menjadi sinyal nyata bahwa regenerasi pengukir lokal masih menghadapi tantangan terjal.

Belasan peserta tersebut hanya berasal dari lima delegasi sekolah, yaitu SMPN 1 Donorojo, SMPN 1 Kedung, SMPN 3 Kedung, SMPN Pakis Aji 2, dan SMPN 6 Jepara. Sementara lima sekolah lain yang turut diundang terpantau tidak memberikan respons.

Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto, menilai keterlibatan instansi pendidikan merupakan indikator krusial dalam komitmen pelestarian budaya.

“Ukir itu sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tapi ironisnya mulai ditinggalkan anak muda. Sekolah yang seharusnya jadi ekosistem pelestarian juga terbentur keterbatasan guru, kurikulum, hingga fasilitas,” keluhnya.

Guna memantik antusiasme peserta, yayasan menerjunkan empat instruktur berpengalaman. Di antaranya adalah Sutrisna yang merupakan pensiunan guru ukir, serta Rumini, sosok peraih beragam penghargaan pelestari ukir dari tingkat daerah hingga nasional.

Cegah Kepunahan Identitas Kota Ukir

Kehadiran para pakar tersebut diharapkan mampu menginspirasi para pelajar untuk menyelami keindahan seni ukir Jepara. Yayasan berharap dari tangan-tangan mungil ini kelak lahir bibit pengukir andal.

“Biar ukiran di Jepara tidak punah, kami terus menggalakkan pelatihan mengukir. Khususnya bagi pelajar,” terang Hadi.

Sementara itu, salah satu peserta bernama Muhammad Azka mengaku cukup kewalahan saat pertama kali mempraktikkan penggunaan alat pahat.

Meski begitu, kesulitan tersebut tak menyurutkan semangat Azka. Ia justru tertantang untuk terus mengasah kemampuannya menciptakan ornamen di atas media kayu.

“Memang sulit ya, nggak langsung bisa. Butuh proses untuk mempelajarinya. Tapi bagiku, ini suatu ilmu baru yang harus dilestarikan,” katanya antusias. (oka/gih/rds)