Kendal  

SMPN 2 Cepiring Kendal Terbitkan Buku Refleksi Pembelajaran Bahasa Inggris

KARYA TULIS: Sejumlah siswa siswi SMPN 2 Cepiring menunjukkan buku karyanya didampingi guru Bahasa Inggris, Ana Rahmawati Ningsih, Selasa (28/4/2026). (AGUS/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Sebanyak 72 siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Cepiring, Kabupaten Kendal, berhasil menerbitkan buku refleksi pembelajaran bahasa Inggris. Karya literasi ini menjadi wadah jujur para siswa dalam mengevaluasi pengalaman belajar mereka selama di sekolah.

Keberhasilan penerbitan buku ini mendapat sorotan istimewa. Pasalnya, dua siswi penulisnya kini tengah mempersiapkan proyek puisi bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.

Buku bertajuk Refleksi Pembelajaran Bahasa Inggris Guru dan Siswa Tahun Ajaran 2025-2026 ini ditulis oleh siswa kelas VII dan VIII. Awalnya terdapat 224 pendaftar, namun setelah melalui proses seleksi ketat, hanya 72 karya siswa yang layak dibukukan.

Selain karya siswa, buku ini juga memuat satu tulisan dari Guru Bahasa Inggris SMPN 2 Cepiring, Ana Rahmawati Ningsih.

“Buku yang sekarang ini merupakan buku kedua. Buku pertama berisi refleksi dari 111 siswa,” kata Ana, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan, tulisan di dalam buku tersebut memuat dinamika pembelajaran selama satu tahun ajaran. Para siswa menceritakan materi yang dipelajari, kendala pemahaman, hingga rencana perbaikan ke depan.

Menurut Ana, karya tulis seperti ini menjadi sarana literasi yang sangat penting bagi siswa.

“Saya sangat senang karena refleksi para siswa ini bisa menjadi sebuah karya tulis. Apalagi sekarang public speaking dan menulis menjadi modal utama,” ungkapnya.

Kolaborasi Sastra Bersama Menteri

Ana menyebutkan bahwa buku tersebut sudah tersedia untuk publik dan dapat dibeli masyarakat melalui platform Shopee dari pihak penerbit.

Lebih membanggakan lagi, dua siswi yang turut menulis dalam buku ini, yakni Aisa Yasmin dan Nurul Arifah, kini mendapat kesempatan emas di tingkat nasional. Keduanya sedang mempersiapkan proyek penulisan puisi bersama Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

“Doakan semuanya berjalan lancar, karena puisi ini nantinya juga akan dibukukan,” ujar Ana penuh harap.

Sementara itu, Aisa Yasmin mengaku tidak mengalami kesulitan saat menulis karena murni merangkum pengalaman pribadinya.

“Yang saya tulis sama persis dengan apa yang saya alami saat belajar bahasa Inggris. Saya berkomitmen untuk lebih giat lagi,” kata Aisa.

Hal serupa disampaikan Nurul Arifah. Ia menyebut proses menuangkan ide ke dalam tulisan berlangsung sangat cepat karena kejadian nyata.

“Untuk menulis saya hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Saya ingin setiap hari menambah kosakata bahasa Inggris agar ke depannya bisa lebih lancar,” pungkas Nurul. (ags/ree/rds)