Banyak orang tua masih menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan utama, padahal kualitas sejumlah sekolah mitra dinilai tidak kalah baik.
Ia juga mendorong pemetaan sekolah mitra berdasarkan kualitas layanan, fasilitas, prestasi, serta tingkat keterisian peserta didik agar kebijakan pemerintah lebih tepat sasaran.
Selain itu, DPRD menemukan beberapa sekolah mitra berada cukup jauh dari lokasi tempat tinggal calon siswa.
Faktor jarak tersebut membuat sebagian peserta yang sebenarnya telah memenuhi syarat akhirnya memilih tidak mengambil kursi yang tersedia.
Mereka mempertimbangkan biaya dan akses transportasi harian.
“Jarak sekolah juga harus menjadi pertimbangan. Jangan sampai siswa sudah diterima, tetapi akhirnya mengundurkan diri karena lokasinya terlalu jauh,” katanya.
Ke depan, DPRD Jawa Tengah juga mendorong peningkatan mutu sekolah mitra melalui penguatan sarana dan prasarana, laboratorium, perpustakaan, hingga kualitas pembelajaran.
Publikasi mengenai keunggulan masing-masing sekolah juga dinilai perlu diperluas agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih objektif.
Menurut dia, evaluasi menyeluruh harus mencakup seluruh tahapan SPMB, mulai dari sistem pendaftaran daring, efektivitas program sekolah mitra, hingga pemerataan akses pendidikan.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan penerimaan peserta didik baru serta memastikan tidak ada anak yang kehilangan hak memperoleh pendidikan.
“Evaluasi dilakukan untuk memperbaiki kekurangan. Tujuannya agar pelaksanaan SPMB setiap tahun semakin baik dan semua anak mendapatkan akses pendidikan yang layak,” tandasnya. (hfh/iza/rds)










