Saat ini, performa produksi bertahan di angka 513 butir per hari. Jumlah itu berkisar 75 hingga 80 persen dari kapasitas kandang.
“Kalau sekarang-sekarang itu masih di sekitar 513, sudah turun ya. Kalau dulu masih 80 persen terus,” tambahnya.
Guna memitigasi risiko penurunan kesehatan unggas akibat stres cuaca, pekerja BUMDes menerapkan pola perawatan intensif. Bebek-bebek tersebut diberikan pakan pabrikan jenis multifeed dua kali sehari.
Pakan tersebut dicampur dengan tambahan suplemen daya tahan tubuh serta antibiotik alami dari cacahan daun pepaya setiap seminggu sekali.
Air minum dipastikan mengalir tanpa henti dari sumber mata air menggunakan pipa paralon. Sedangkan kebersihan kandang dijaga ketat dengan taburan sekam padi secara berkala agar lantai tidak becek.
Sisa limbah kotoran pun diolah kembali menjadi pupuk organik. Tujuannya agar tidak mubazir dan mendatangkan nilai ekonomis tambahan.
Selain menyuplai kebutuhan Posyandu untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam program penanganan stunting desa, BUMDes Sawal Bersatu juga tengah merancang inovasi produk hilir. Inovasi tersebut memanfaatkan telur kualitas afkir.
Di akhir kesempatan, pihak BUMDes berharap agar kondisi pasar makro kembali berimbang. Sehingga, margin keuntungan yang didapatkan desa bisa lebih maksimal. (cr1/ree/rds)










