Saat memeriksa lokasi setelah api padam, Rokhman juga menemukan bekas bengkok pada salah satu ventilasi besi. Ventilasi tersebut diduga menjadi akses pelaku melakukan pembakaran.
Hingga kini sekolah belum dapat mengidentifikasi pelaku karena tidak dilengkapi kamera pengawas (CCTV).
“Ada empat ventilasi, yang tengah memang sudah tidak ada besinya. Tapi yang pojok ini baru saya lihat ada bengkokan, sebelumnya belum ada,” ungkapnya.
Kepala MTs NU 27 Unggulan Jatipurwo, Falil Ulil Hidayah, mengungkapkan insiden serupa sebenarnya telah terjadi pada Kamis (9/7/2026) lalu saat masa libur sekolah.
Saat hendak menuju ruang komputer di lantai dua, ia menemukan galon air mineral berisi cairan berwarna hijau di depan ruang kelas IX A. Tak jauh dari lokasi juga terdapat korek api gas.
“Saya kebetulan mau mengerjakan tugas di ruang komputer. Saya kaget melihat ada cairan warna hijau,” ujarnya.
“Setelah saya cek ternyata baunya Pertalite, dan ada korek api juga di bangku,” beber Falil.
Ketika memeriksa ruang kelas, Falil menemukan bekas kebakaran pada tumpukan buku. Bersama guru lain, ia memastikan api benar-benar padam karena masih terdapat bara yang menyala.
“Sebagian buku terbakar, terutama modul pembelajaran. Di situ juga ada pojok baca dan sebagian ikut terbakar,” katanya.
Falil menegaskan sekolah tidak memiliki konflik dengan pihak mana pun.
“Tidak ada masalah sama sekali, baik dengan orang tua maupun siswa. Siswa juga naik semua dan lulus semua,” tegasnya.
Akibat kebakaran terbaru, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 75 juta. Aktivitas belajar mengajar untuk sementara diliburkan hingga proses penyelidikan kepolisian selesai.
Kapolsek Rowosari, Iptu Akhmad Djoko Puji Laksono mengatakan polisi telah melakukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi. Baik dari pihak sekolah maupun warga sekitar.
Menurutnya, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Polisi juga mendalami kemungkinan adanya keterkaitan antara kebakaran yang terjadi pada Kamis (9/7/2026) dan Selasa (14/7/2026).
“Hari Kamis (9/7/2026) lalu memang ada laporan ke kami. Dan ternyata hari ini juga ada laporan lagi dari sekolah yang sama, itu ada Pertalite,” tandasnya.
“Kami masih menyelidiki apakah kedua kasus ini memiliki keterkaitan, masih kami dalami kasusnya,” tutup Iptu Akhmad Djoko. (ags/gih/rds)










