Batang  

Teater Jaten Batang Angkat Isu Pinjol dan Gaya Hidup Konsumtif Lewat Lakon Lurung Kalabendu

MENDALAMI: Beberapa pemeran saat beradu akting dalam Pentas Teater Jaten dengan lakon Lurung Kalabendu di Gedung Serbaguna, Desa Kalipucang Kulon, Sabtu (25/7/2026). (HUMAS/JOGLO JATENG)

BATANG, Joglo Jateng – Fenomena maraknya pinjaman dalam jaringan (pinjol), kredit konsumtif, hingga gaya hidup yang melampaui kemampuan ekonomi diangkat oleh Komunitas Teater Jaten.

Mereka mengangkat isu tersebut melalui pementasan lakon berjudul Lurung Kalabendu karya Joko Bibit Santoso.

Pementasan yang digelar di Gedung Serbaguna Desa Kalipucang Kulon pada Sabtu (25/7/2026) ini menjadi media kritik sosial sekaligus edukasi agar masyarakat lebih bijak mengelola keuangan.

Sutradara pementasan, Nur “Ayak” Rozak, mengatakan naskah tersebut terinspirasi dari berbagai persoalan nyata yang kerap terjadi di tengah masyarakat.

Menurutnya, keinginan untuk memenuhi gaya hidup tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial sering berujung pada jeratan utang.

Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak buruk bagi keharmonisan dan stabilitas ekonomi keluarga.

“Kami ingin mengingatkan masyarakat agar hidup sesuai kemampuan dan tidak mudah tergiur pinjaman online maupun kredit dengan iming-iming uang muka ringan yang justru bisa menjadi jebakan,” ujar Ayak.

Ayak menjelaskan, proses latihan berlangsung selama empat bulan karena para pemain berasal dari berbagai latar belakang profesi, seperti guru dan pelajar.

Meski memiliki kesibukan masing-masing, seluruh pemain tetap berkomitmen menyiapkan pementasan tersebut dengan matang.

Rencananya, lakon ini juga akan dipentaskan di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) Kudus dan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta.

Salah seorang pemain, Sabrina, yang merupakan siswi SMA Negeri 1 Batang, mengaku bangga dapat terlibat dalam pementasan tersebut.

Menurutnya, teater tidak hanya melatih kemampuan seni peran, tetapi juga meningkatkan kepedulian terhadap persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Ternyata seru bisa ikut bergabung dan berkolaborasi dalam pentas ini, kita juga banyak belajar selain kemampuan akting juga memahami nilai dari tokoh atau cerita,” tutur Sabrina.

Selain mengangkat isu ekonomi, pementasan Lurung Kalabendu juga menjadi upaya nyata dalam pelestarian budaya daerah.

Seluruh dialog disampaikan menggunakan bahasa Jawa sebagai bentuk ajakan kepada generasi muda.

Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal di tengah derasnya arus perkembangan zaman. (hms/fan/rds)