Meski demikian, sekolah tetap menekankan bahwa aplikasi tersebut bukanlah alat untuk menghukum siswa. Melainkan sebagai media refleksi dan pembiasaan.
“Kalau misalnya anak mengisi pada siang hari juga tidak masalah. Yang penting mereka mengisi sesuai aktivitas yang dilakukan,” jelasnya.
“Misalnya bangun jam sekian, mereka menuliskan apa adanya,” tegasnya.
Selain penguatan karakter, pemanfaatan teknologi digital juga diterapkan dalam proses pembelajaran.
Guru memanfaatkan telepon pintar (smartphone), televisi pembelajaran di setiap kelas, hingga berbagai aplikasi digital untuk meningkatkan kualitas belajar.
Salah satu contohnya adalah pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Siswa diajak menghitung kebutuhan kalori makanan menggunakan aplikasi digital.
“Mereka membuat menu sarapan, lalu menghitung kalorinya,” sebutnya.
“Dari situ mereka bisa mengetahui apakah kebutuhan kalorinya berlebih atau kurang,” paparnya.
Ke depan, SMP 2 Kudus juga tengah menyiapkan pengembangan sistem presensi digital. Sistem ini nantinya akan terhubung langsung dengan telepon genggam (handphone) orang tua.
Ia berharap seluruh inovasi digital tersebut dapat mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang lebih transparan dan efektif.
Sekaligus mampu membentuk karakter peserta didik agar sesuai dengan perkembangan zaman. (uma/fat/rds)










