WONOSOBO, Joglo Jateng – Kehadiran program Sekolah Rakyat (SR) berbasis asrama di Kabupaten Wonosobo memberikan secercah harapan baru bagi keluarga kurang mampu. Terlebih, bagi mereka yang merindukan pendidikan berkualitas untuk anak-anaknya.
Program yang memadukan pendidikan akademik, kedisiplinan berasrama, serta pembinaan bakat ini dinilai efektif memutus mata rantai anak putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.
Tidak hanya memberikan rasa tenang bagi para orang tua, sistem pembelajaran berasrama di Sekolah Rakyat terbukti mampu membentuk karakter disiplin serta mencetak siswa berprestasi.
Salah satu potret keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh Angelina Puspitasari, siswi kelas XI asal Dusun Gentan, Desa Bener, Kecamatan Kepil.
Ia merupakan siswa gelombang pertama di SR yang menceritakan pengalaman berharganya selama satu tahun menetap di asrama.
Meski awalnya sempat canggung dan terkejut karena belum pernah merasakan kehidupan pesantren atau asrama, ia cepat beradaptasi berkat lingkungan yang hangat.
“Perkenalkan nama saya Angelina Puspitasari, saya dari Gentan, Bener, Kepil, Kecamatan Kepil, Wonosobo. Dan ini juga pertama kali buat saya apa ya di asrama, jadi itu cukup kaget tapi menyenangkan,” kenang Angelina, Selasa (4/8/2026).
Anak ketiga dari lima bersaudara ini mengungkapkan, dirinya pertama kali mendaftar ke Sekolah Rakyat atas informasi dari pendamping PKH setempat, Giyono.
Kala itu, dari banyaknya anak usia sekolah di Kecamatan Kepil, hanya tiga orang yang berani mengambil kesempatan berasrama.
Selama satu tahun di Sekolah Rakyat, bakat seni dan akademik Angel berkembang pesat. Ia berhasil meraih Juara 3 Lomba Poster Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pembina Sekolah Rakyat di Bekasi.
Tak hanya itu, Angel juga mahir berpidato menggunakan bahasa Jepang secara mandiri melalui panduan media sosial dan bimbingan guru.
Cita-cita mulia dipatri oleh siswi yang aktif mengikuti ekstrakurikuler seni rupa, English club, seni tari, pencak silat, dan pramuka ini. Ia bertekad untuk menjadi pendidik profesional sekaligus penerjemah bahasa asing di masa depan.
“Kalau cita-cita saya sendiri, saya pengen jadi guru. Guru juga pengen jadi translator bahasa,” ungkapnya.
“Kan kalau translator nanti bisa sambil-sambil gitu buat pekerjaan sampingannya, terus pekerjaan tetapnya jadi guru. Pengennya gitu,” tambahnya.
Para orang tua siswa mengaku sangat bersyukur dan bangga atas kesempatan emas yang didapatkan anak-anak mereka.
Sebab, selain membebaskan biaya pendidikan secara penuh, SR juga memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik agar siap meraih cita-cita di masa depan. (cr1/fan/rds)










