Mafindo Temukan 2.000 Lebih Konten Hoaks selama 2023

Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho
Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Masyarakat Anti Fintah Indonesia (Mafindo) menemukan sebanyak lebih dari 2.000 berita bohong atau konten hoaks di media sosial selama tahun 2023. Temuan hoaks ini didominasi isu politik dengan presentase sebesar 52 persen.

Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho mengatakan, mulai Januari hingga Oktober 2023, Mafindo menemukan 1.944 konten hoaks di media sosial. Jika ditotal hingga awal Desember, jumlah hoaks lebih dari 2.000. Khusus Pemilu 2024, ada 520 konten hoaks bersarang di dunia maya.

“Yang fokus Pemilu ini setidaknya kita mendapatkan sekitar 520-an sampai bulan Oktober. Jadi kalau kita kompilasi sampai sekarang ada lebih dari 2.000 hoaks yang kita dapatkan selama tahun 2023,” katanya kepada Joglo Jateng usai menjadi narasumber kegiatan Pembekalan Pengawas Patroli Siber “Pencegahan Pelanggaran Kampanye dan Konten Internet” di Metro Park View Hotel, Kota Semarang, belum lama ini.

Menurutnya, jumlah hoaks yang ditemukan Mafindo pada tahun 2023 meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pada 2022 lalu, konten hoaks sebanyak 1.698. Peningkatan hoaks yang tersebar di berbagai platform dinilai karena pengaruh momentum Pemilu 2024.

“Saat ini hoaks yang dominan di YouTube, Facebook, kemudian ada TikTok, Instagram dan WhatsApp, cuma kalau di WhatsApp karena dia platform privat, jadi gak semuanya kita ketahui,” ujarnya.

Selain masalah Pemilu, penyebaran hoaks juga terjadi untuk isu kesehatan, penipuan digital, kebencanaan, dan masalah lainnya. Untuk topik seputar selebritas atau dunia infortmaimen, Mafindo tidak menangani hal tersebut.

“Selain politik, macam macam, ada masalah kesehatan, ada juga penipuan digital, ada masalah kebencanaan, ada masalah lain-lain, tapi kita tidak men-debungking (memeriksa) isu-isu yang berkaitan dengan artis, itu bukan masalah publik,” ungkap Septiaji.

Di sisi lain, dia mengakui bahwa temuan hoaks Mafindo jumlahnya lebih sedikit dari banyaknya hoaks yang tersebar. Tidak semua konten hoaks dapat diverifikasi karena jumlah dan penyebarannya sangat masif.

“Sebetulnya banyak hoaks yang belum kita temukan karena ada banyak hoaks yang beredar di aplikasi percakapan mungkin  video yang tidak mudah kita debungking (periksa) di kanal-kanal video YouTube, TikTok itu masih banyak sekali,” ucapnya.

Lebih jauh Mafindo mengajak masyarakat pengguna media sosial untuk lebih skeptis dan kritis ketika menerima informasi. Setiap informasi yang ada di media sosial harus diverifikasi untuk mengetahui fakta dan kebenaran. “Pada prinsipnya adalah sikap skeptis sikap skeptis dan berpikir kritis dalam membaca informasi itu adalah yang paling penting,” tandasnya. (luk/gih)