Figur  

Fia, Survivor Keluarga yang Meraih Kesuksesan Sebagai Leader

Nur Asfia
Nur Asfia. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

MENJADI survivor dari keluarga yang memiliki kondisi berbeda seperti pada umumnya (broken home), tidaklah mudah bagi sebagian orang. Namun kondisi itu mampu dilampaui oleh dara mungil kelahiran Banjarmasin Tahun 2003, Nur Asfia.

Asfia, atau yang lebih akrab disapa Fia, kini tinggal di Umbulharjo. Ia tengah mengenyam Pendidikan Ilmu Komunikasi Semester V di Universitas Ahmad Dahlan. Fia memiliki beragam hobi, termasuk public speaking, menulis, dan menonton film.

“Selain itu, saya juga menjalani peran sebagai student employee (SE) kampus dan penulis konten lepas di beberapa tempat. Saat ini saya tengah mendirikan sebuah konsultan Public Relation (PR) bernama IMPACT bersama beberapa teman dekat saya,” ungkapnya.

Perjalanan hidup Fia tidak selalu mudah. Lantaran broken home, membuatnya mulai merantau sejak usia 14 tahun. Namun, Fia memilih untuk menjadi survivor dari situasi sulit ini. Kemandiriannya terbentuk melalui perjalanan hidupnya, bertemu dengan berbagai orang, dan belajar dari setiap pengalaman.

“Khususnya dalam komunikasinya dengan orang tua yang tidak selalu lancar. Jadi memang belajarku di jalanan. Aku mengambil banyak pelajaran dari orang-orang lain yang aku temui,” imbuhnya.

Dirinya mengaku pernah salah dalam mengambil jurusan ketika masuk SMK. Melalui jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dengan fokus event organizer, Fia mulai belajar tentang kepemimpinan, terutama karena atasan di tempat kerjanya mengajarnya dengan keras.

“Ketika kuliah, saya dipercaya menjadi pemimpin dalam beberapa proyek luaran mata kuliah, berkat pengalaman dan pembelajaran yang didapat di pekerjaan mahasiswa. Keberanian dan keputusan untuk memulai proyek baru membuat saya untuk berpikir jangka panjang terhadap segala sesuatu yang saya mulai,” jelasnya.

Dalam perjalanan ini, Fia memiliki harapan besar. Dia ingin menjadi teladan bagi mereka yang berasal dari latar belakang broken home pedalaman, terutama anak-anak yang mungkin merasa sendirian.

“Menurut saya, menjadi “keren” bukanlah konsep yang harus muluk-muluk. Untuk menjadi keren menurutku, dengan aku masih bisa hidup hingga saat ini, tanpa berfikir untuk mati nanti malam dan overthinking itu sudah keren,” tandasnya. (cr11/all)