JEPARA, Joglo Jateng – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Jepara mengimbau kepada para nelayan Jepara agar menghentikan aktivitasnya selama gelombang tinggi. Imbauan tersebut juga dilayangkan oleh Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Jepara guna keselamatan para nelayan Jepara.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jepara Farikha Elida menyampaikan bahwa terdapat 3.025 kapal nelayan di Kabupaten Jepara. Sehingga, dalam kondisi seperti ini pihaknya memberikan imbauan langsung kepada para nelayan agar tidak melaut.
“Informasi peringatan curah hujan dan gelombang tinggi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kami teruskan informasinya ke kelompok-kelompok nelayan melalui grup Whatsapp, disertai imbauan agar tidak melaut pada saat cuaca tidak mendukung,” terangnya pada Joglo Jateng, Minggu (17/3/24).
Kemudian, untuk pemberitahuan dan imbauan resmi dari dinas perikanan, pihaknya menyampaikan akan segera dilayangkan. “Imbauan kami sifatnya penegasan saja, karena dari Kantor Pelabuhan UPP sudah menyampaikan imbauan resmi kepada para nelayan dan stakeholder lainnya,” paparnya.
Sementara itu, di waktu lain, Kepala UPP Kelas II Jepara Juwita Sandy Sary mengaku telah mengeluarkan surat imbauan kepada pengguna kapal. Kapal dengan draft kapal atau bagian kapal yang masuk ke dalam air laut, di bawah dua meter seperti kapal tradisional, kapal penumpang, dan kapal nelayan diimbau untuk tidak melaut.
“Kondisi gelombang di perairan laut Jepara saat ini diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2,5 meter. Kami mengeluarkan ini karena berdasarkan prakiraan BMKG dan Stasiun Radio Pantai (SROP) Jepara,” ungkapnya.
Berdasarkan pantauan Joglo Jateng, beberapa nelayan di Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara masih melakukan aktivitas melaut. Lantaran, melaut menjadi pekerjaan utama.
“Tetap melaut, tapi memang ikan yang di dapat tidak sebanyak ketika cuaca nya baik. Akhirnya harga ikan juga naik,” ucap Darmawan salah satu nelayan Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara.
Darmawan menyampaikan, kendati demikian menurutnya rata-rata nelayan lain sudah tidak melaut sekitar satu Minggu yang lalu. Selama tidak melaut para nelayan menggunakan waktunya untuk memperbaiki mesin kapal dan peralatan lain seperti jaring ikan. Hal itu biasa dilakukan ketika cuaca buruk tiba atau sedang pada musim baratan.
“Kalau nelayan pada umumnya sembari nunggu cuaca baik, biasanya digunakan untuk memperbaiki kapal. Karena banyak juga kapal nelayan yang umurnya sudah lama,” pungkasnya. (cr4/gih)










