Kudus  

Parade Budaya Menawan Mantu Hidupkan Dolanan Tempo Dulu

MENGENAL: Anak-anak mencoba untuk belajar memainkan permainan tradisional dakon di galeri sanggar Adiguna Menawan pada akhir pekan lalu. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG).

KUDUS, Joglo Jateng – Rangkaian Menawan Mantu Jilid 4 yang digelar di Desa Menawan, Kecamatan Gebog membali memukau warga dan pengunjung. Acara tersebut dimulai Sabtu (10/5) hingga Senin (12/5).

Sanggar belajar Adiguna dan Lapangan Abiyoso menjadi pusat kegiatan parade seni budaya yang dipenuhi nuansa masa lalu.

Parade seni budaya dibuka dengan penampilan tari tradisional Amboyor Kebyok Anting-anting yang memikat perhatian penonton.

Tiga putri Desa Menawan, yaitu Aura Febri Arifah, Azzahra Irma Novita, dan Alya Qotrunnada sukses membawakan tarian tersebut dengan penuh semangat dan ekspresi mendalam.

Kepala Desa Menawan, Tri Lestari mengungkapkan kebanggaannya atas terselenggaranya acara ini.

Menurutnya, parade seni budaya seperti ini bisa menjadi tolok ukur sekaligus media promosi bagi Desa Menawan di kancah daerah hingga nasional.

“Ini juga menjadi media promosi, apalagi Lapangan Abiyoso bisa digunakan untuk kegiatan jambore daerah. Kita menghidupkan kembali dan mencoba agar lapangan ini bisa kembali bersinar sebagai tempat terbaik bagi anak-anak,” ujarnya.

Tri menekankan pentingnya pemanfaatan fasilitas desa untuk kemajuan pendidikan dan kegiatan sosial budaya.

Di desa yang ia pimpin terdapat lapangan sepak bola, lapangan voli, semua dikelola setiap hari dengan baik.

Ia berharap dengan adanya berbagai macam dolanan dan kegiatan seni budaya ini, generasi muda, termasuk generasi Z, dapat mengenal kembali akar budayanya.

Meskipun sudah tidak lagi hidup di zamannya.

“Berbagai aneka dolanan kuno ini tidak hanya sekadar permainan, tapi juga sarana untuk membentuk karakter, kerja sama, dan kecintaan terhadap budaya sendiri. Anak-anak harus tetap mengikuti zaman. Tapi perlu tahu bahwa permainan tradisional juga penting,” tutupnya.

Ketua panitia parade seni budaya, Tri Mu’arifah, yang akrab disapa Gimuk menjelaskan, konsep tahun ini sengaja mengangkat permainan tempo dulu.

Hal ini sebagai bentuk edukasi sekaligus pelestarian budaya.

“Yang saya tonjolkan adalah permainan anak pada masa lalu. Karena yang saya lihat sekarang, anak-anak lebih ke gadget. Kita mencoba mengenalkan kembali supaya anak-anak tahu, kalau orang-orang zaman dulu itu seperti ini. Tidak hanya fokus di gadget saja,” jelasnya.

Anak-anak diajak mengenal dan mencoba berbagai jenis permainan tradisional.

Seperti enggrang bambu, bekelan, tembak-tembakan dari bambu, hingga gobak sodor yang melatih kerja sama tim dan strategi.