SMK NU Lasem Genjot Disiplin & Etika Kerja

MONITORING: Guru pembimbing PKL melakukan monitoring ke Nasmoco Pati, baru-baru ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – SMK NU Lasem saat ini telah memasuki tahap monitoring ketiga dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung sejak 2 Juni hingga 2 November 2025. Program ini melibatkan 306 siswa dari berbagai jurusan, yang disebar ke dunia industri-dunia kerja sesuai bidang keahlian mereka, baik di dalam maupun luar kota.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Industri dan Masyarakat, Sri Indayani menyampaikan, pelaksanaan PKL tahun ini berjalan cukup lancar. Ini sudah masuk monitoring ketiga dari lima yang direncanakan. Pihaknya terus memantau perkembangan anak-anak. Baik secara langsung maupun lewat koordinasi dengan industri dan orang tua.

PKL tahun ini menyasar berbagai industri, mulai dari percetakan untuk jurusan desain komunikasi visual (DKV), instansi pemerintah dan UMKM untuk jurusan MPLB dan Akuntansi hingga bengkel-bengkel otomotif untuk jurusan Teknik Otomotif (TO).

Beberapa perusahaan luar kota yang menjadi tempat PKL di antaranya adalah Mitsubishi, Isuzu, Daihatsu Nasmoco dan beberapa tempat lainnya. Sementara di dalam kota, siswa banyak ditempatkan di berbagai bengkel dan perusahaan yang sudah bermitra dengan sekolah.

BEKALI: Siswa SMK NU Lasem sebelum berangkat PKL dibekali ilmu tentang kedisiplinan dari TNI, beberapa waktu lalu. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Sebelum pemberangkatan PKL, siswa telah mendapatkan pembekalan melalui program upgrading yang melibatkan TNI. Program ini bertujuan membentuk karakter disiplin dan kesiapan mental siswa dalam menghadapi dunia kerja.

“Kami bekali mereka dengan pelatihan dari TNI agar punya kedisiplinan dan etika kerja di industri. Selain itu, kami juga mengundang orang tua untuk memastikan adanya dukungan dan pemantauan dari rumah,” jelasnya.

Selama pelaksanaan PKL, tidak sedikit siswa yang menunjukkan perkembangan positif dan bahkan mulai diminati oleh industri tempat mereka PKL. Namun, ada juga beberapa siswa yang mengalami kendala, terutama dalam hal kedisiplinan waktu.

“Ada yang pulang sampai malam karena memang jam kerja di industri tidak sama dengan disekolah. Ini jadi bahan evaluasi kamia bersama guru pembimbing dan wali kelas mengingat siswa dalam hal ini adalah PKL dan bukan bekerja yang sepenuhnya,” imbuhnya.

Pihak sekolah berharap, setelah mengikuti PKL, siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja nyata. Tetapi juga memperluas jaringan relasi yang dapat berguna setelah lulus nanti.

“Banyak siswa kami yang setelah PKL diminta lanjut bekerja di tempat PKL-nya. Bahkan ada yang diminta memperpanjang masa PKL, tapi terbentur jadwal ujian. Kami terbuka jika setelah lulus, mereka ingin kembali bekerja di tempat itu,” tutupnya. (uma/fat)