KENDAL, Joglo Jateng – Dari sebuah pelatihan membatik yang digelar Dinas Perindustrian dan PKK Kabupaten Kendal pada tahun 2011, Widji Astutik kini menjelma menjadi salah satu perajin batik yang cukup dikenal di daerahnya. Berbekal nama panggilan “Widji”, ia menamai produknya Batik Widji dan mengembangkan usahanya dari rumah di Desa Lanji, RT 01 RW 04, Kecamatan Patebon, Kendal.
“Dulu saya mulai dari mengenal canting, pewarna sampai desain batik. Sejak itu saya terus berkreasi hingga bisa menghasilkan batik dengan berbagai motif,” tutur Widji, Kamis (2/10/2025).
Widji memproduksi batik tulis maupun batik cap dengan motif beragam, mulai bunga, abstrak, ciprat, lemah teles hingga sembur angin. Setiap motif memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, motif ciprat merupakan kombinasi cap dengan cipratan pewarna, sementara motif lemah teles menghadirkan efek seperti kehujanan. Adapun sembur angin tercipta dari kombinasi warna yang ditumpahkan, lalu dicap.
“Motif lemah teles banyak peminatnya, sejak dibuat tahun 2020 hingga sekarang masih laku. Harganya antara Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menciptakan motif khas Kendal seperti Daun Kendal, Kendil, dan Curug Sewu. Hingga kini, sudah ada 14 motif ciptaannya yang mendapat hak paten. Widji, bahkan membuat batik ecoprint dengan memanfaatkan warna alami dari tumbuhan seperti kayu secang dan daun mangrove.
Salah satu karyanya, bahkan pernah dibeli mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan harga Rp2,5 juta pada sebuah pameran di Kendal. Batik tersebut bermotif daun mangrove dengan pewarna alami.










