Kendal  

Imbas Program Makan Bergizi Gratis, Harga Ayam di Pasar Kendal Melambung

Pedagang di Pasar Kendal sedang menata stok daging ayam yang terbatas di lapaknya.
SUASANA: Pedagang saat melayani pembelian daging ayam di pasar tradisional di Kendal, belum lama ini. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Tren kenaikan harga daging ayam Kendal terus terjadi dalam dua bulan terakhir, membuat para pedagang dan konsumen di pasar tradisional menjerit. Berdasarkan pantauan di lokasi pada Minggu (11/1), lapak-lapak pedagang terlihat tidak memajang stok sebanyak biasanya akibat distribusi yang tersendat.

Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya pasokan ayam potong maupun ayam sayur ke pasar tradisional. Sebagian besar stok dari pemasok kini dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang digalakkan pemerintah.

Pasokan Tersedot Dapur MBG

Kuati, salah satu pedagang daging ayam di Pasar Kendal mengungkapkan bahwa distribusi dari pemasok tidak lagi maksimal. Tingginya permintaan dari dapur program MBG membuat jatah untuk pasar tradisional berkurang drastis, sehingga hukum pasar berlaku: stok sedikit, harga melejit.

“Permintaan dari dapur MBG sangat besar, sehingga pasokan ke pasar menjadi terbatas. Pemasok memprioritaskan pengiriman ke sana. Akibatnya, harga daging ayam di pasar ikut naik,” jelas Kuati.

Kenaikan harga ini berdampak domino. Tidak hanya daging ayam, komoditas pangan lain seperti telur dan sayur-mayur juga merangkak naik karena stok di pasaran menipis. Hal ini berimbas langsung pada daya beli masyarakat yang kian lesu.

Rincian Kenaikan Harga

Para pedagang mengaku omzet mereka menurun karena konsumen mengurangi jumlah pembelian akibat harga yang mahal. Berikut adalah rincian kenaikan harga ayam di Pasar Kendal per Minggu (11/1):

  • Ayam Kampung: Naik menjadi Rp 80.000 per kg (sebelumnya Rp 70.000).
  • Ayam Merah: Naik menjadi Rp 60.000 per kg (sebelumnya Rp 55.000).
  • Ayam Sayur: Naik menjadi Rp 40.000 per kg (sebelumnya Rp 35.000).

“Harga yang lebih mahal membuat sebagian konsumen mengurangi jumlah pembelian, sehingga omzet pedagang ikut menurun,” tambah Kuati.

Pedagang berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan pasokan. Mereka mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, namun berharap mekanisme distribusinya tidak mengorbankan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat umum di pasar tradisional. (ags/gih)