KUDUS, Joglo Jateng – Antusiasme warga terhadap deteksi dini penyakit kritis kian difasilitasi oleh layanan kesehatan tingkat pertama. Guna menekan risiko penyakit mematikan pada wanita, Puskesmas Bae Kabupaten Kudus kini membuka layanan skrining kanker payudara gratis yang digelar rutin satu bulan sekali.
Layanan ini dibuka pada pukul 08.00 hingga 11.00 WIB dengan sistem kuota terbatas mengingat tingginya permintaan dan keterbatasan alat. Program ini mencakup pemeriksaan SADARI, SADANIS, hingga USG payudara bagi warga yang membutuhkan.
Dokter Umum Puskesmas Bae, dr. Mutia Azmi Suswandari menjelaskan, masyarakat dapat mengakses layanan ini dengan persyaratan yang sangat sederhana.
“Hanya membawa KTP saja. Idealnya memang untuk perempuan usia 40 tahun ke atas. Karena pada usia tersebut risiko kanker payudara mulai meningkat,” ujarnya.
Mutia menambahkan, program ini merupakan paket integrasi layanan deteksi dini yang juga mencakup skrining kanker leher rahim. Sasaran utamanya adalah wanita usia subur agar pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin.
Tahapan SADARI hingga USG
Dalam pelaksanaannya, prosedur pemeriksaan dilakukan secara bertahap untuk memastikan akurasi diagnosa awal. Berikut alur pemeriksaan yang diterapkan:
- SADARI (Periksa Payudara Sendiri): Edukasi pemeriksaan mandiri yang wajib dilakukan perempuan sebulan sekali di rumah.
- SADANIS (Periksa Payudara Klinis): Pemeriksaan fisik oleh tenaga kesehatan terlatih (perawat, bidan, atau dokter).
- USG Payudara: Dilakukan jika ditemukan kelainan/benjolan saat SADANIS atau jika pasien memiliki keluhan spesifik.
“Kalau SADANIS itu pemeriksaan payudara oleh tenaga kesehatan yang sudah dilatih. Di sini bisa dilakukan oleh perawat, bidan, atau dokter,” jelas dr. Mutia.
Ia menegaskan, USG payudara di puskesmas difokuskan untuk mendeteksi keberadaan benjolan dan membedakan jenisnya, apakah termasuk kista sederhana atau kista tidak sederhana.
“Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kista sederhana, peserta tidak perlu dirujuk dan cukup melakukan kontrol rutin. Namun, kalau selain kista sederhana, itu wajib dirujuk ke rumah sakit untuk USG ulang oleh dokter spesialis radiologi, karena pemeriksaan lebih detail dilakukan di sana,” tuturnya.
Terkendala Keterbatasan Alat
Sementara itu, Kepala Puskesmas Bae, Agung Dwi Atmo mengakui bahwa layanan USG payudara ini baru bisa dilaksanakan satu kali dalam sebulan karena keterbatasan infrastruktur medis.
“Alat USG di Puskesmas Bae hanya satu dan sehari-hari digunakan untuk pelayanan kehamilan (ANC),” ungkap Agung.
Meski demikian, pihaknya tetap memaksimalkan alat yang ada untuk kepentingan skrining awal (screening). Ia menekankan bahwa layanan di puskesmas sifatnya adalah deteksi dini, bukan penegakan diagnosis akhir penyakit.
“Di sini hanya screening saja. Tindak lanjutnya tergantung hasil temuan. Kalau aman, tidak dirujuk. Kalau ada indikasi, baru kami rujuk ke rumah sakit,” pungkasnya. (uma/fat)










