SEMARANG, Joglo Jateng – Penutupan total akses lalu lintas di Jalan Gombel Lama sejak April 2026 menjadi pukulan telak bagi perekonomian warga setempat. Kebijakan perbaikan infrastruktur ini secara langsung membatasi mobilitas masyarakat dan mengancam kelangsungan hidup pelaku usaha kecil akibat merosotnya jumlah pembeli.
Kondisi tersebut memaksa warga beradaptasi dengan keterbatasan akses yang ada. Kendaraan roda empat milik warga dilarang melintas dan dialihkan ke kantong-kantong parkir darurat di sekitar permukiman.
Ketua RT 06 RW 05 Kelurahan Tinjomoyo, Tugimin, menjelaskan bahwa akses keluar-masuk saat ini hanya dilonggarkan khusus untuk kendaraan roda dua.
“Untuk warga tetap dikasih jalan untuk akses keluar-masuk motor. Kalau mobil enggak bisa. Terus terang, mobil disarankan parkir di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa pembatasan akses ini merupakan hasil kesepakatan dan koordinasi bersama pihak pelaksana proyek. Meski tertutup untuk mobil pribadi, kendaraan berat yang mengangkut material proyek tetap diizinkan melintas.
Jeritan Pedagang Menanti Kompensasi
Di sisi lain, bayang-bayang kebangkrutan mulai menghantui warga yang menggantungkan nasibnya dari berdagang. Durasi pengerjaan proyek yang ditaksir memakan waktu hingga tujuh bulan membuat mereka pasrah sekaligus resah.
“Kalau penutupan sampai tujuh bulan, warga yang jualan gimana? Ya pada bingung, soalnya jualannya kan terus mati,” keluh Sulis, salah satu pedagang di kawasan tersebut.
Kecemasan serupa dirasakan oleh Shifa, seorang pedagang makanan setempat. Ia menuntut kejelasan mengenai janji pendataan dan dana kompensasi bagi para pelaku usaha terdampak.
“Belum ada kompensasi dari pihak terkait. Katanya nanti didata untuk yang punya usaha, tapi belum masuk,” tuturnya.
Target Penyelesaian Dipercepat
Menanggapi keluhan dari warga dan pelaku usaha, pihak pelaksana proyek berjanji akan menggenjot percepatan pengerjaan agar jalan bisa kembali beroperasi lebih awal dari jadwal semula.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 BBPJN Jateng–DIY, Alfan Noor Rizal, menegaskan bahwa upaya percepatan tersebut terus diupayakan di lapangan.
“Target awal tujuh bulan, tapi kami berupaya bisa lebih cepat dari itu. Setidaknya tiga atau empat bulan kami upayakan sudah selesai,” pungkas Alfan. (hfh/iza/rds)










