Dinkes Jateng Imbau Masyarakat Waspada Kasus DBD Saat Musim Pancaroba

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab. (HAFIFAH NUR CHASNAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran demam berdarah dengue (DBD) selama masa pancaroba.

Peralihan musim hujan ke musim kemarau dinilai menjadi periode rawan. Sebab, banyaknya genangan air berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

Kepala Dinkes Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab mengatakan, DBD merupakan penyakit yang erat kaitannya dengan perubahan musim. Genangan air yang tersisa saat pancaroba dapat memicu peningkatan populasi nyamuk penyebab DBD.

“DBD biasanya muncul saat peralihan musim hujan ke musim kemarau karena banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).

Meski demikian, hingga saat ini Dinkes Provinsi Jawa Tengah belum mencatat adanya lonjakan kasus. Khususnya yang mengarah pada kejadian luar biasa (KLB).

Menurutnya, jumlah kasus di berbagai daerah masih berada dalam batas normal sesuai pola tahunan.

“Belum ada lonjakan kasus. Sampai sekarang masih dalam kondisi normal dan belum ada kejadian luar biasa,” jelasnya.

Berdasarkan data Dinkes Provinsi Jawa Tengah sepanjang 2026, tingkat kematian akibat DBD atau Case Fatality Rate (CFR) masih ditemukan di sejumlah daerah.

Kota Salatiga mencatat CFR tertinggi sebesar 12,5 persen, disusul Kota Semarang 3,8 persen. Sementara Kabupaten Kendal dan Blora masing-masing mencatat CFR 3 persen, dan sejumlah kabupaten/kota lainnya mencatat CFR nol persen.

Zulfachmi mengatakan, wilayah dataran rendah seperti Jepara, Demak, dan Pekalongan menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian lebih. Daerah tersebut memiliki potensi genangan air yang cukup tinggi saat pergantian musim.

Kondisi tersebut diyakini dapat meningkatkan risiko berkembangnya nyamuk pembawa virus dengue. Untuk menekan penyebaran DBD, Dinkes Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota.

Langkah ini dilakukan melalui berbagai program pencegahan dan pengendalian penyakit. Pelatihan petugas surveilans juga terus dilakukan guna memperkuat pemantauan serta deteksi dini penyakit menular.

Menurutnya, upaya mitigasi menjadi langkah penting agar kasus DBD tidak berkembang menjadi wabah. Pemerintah daerah juga diminta aktif melakukan pemantauan lingkungan.

Sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan penyakit berbasis lingkungan.

“Kuncinya adalah pencegahan. Kita harus memastikan tidak ada tempat berkembang biaknya nyamuk agar kasus tidak meningkat,” katanya. (hfh/iza/rds)