Timbunan Sampah TPA Jatibarang Semarang Overload, Pemkot Siapkan 3 Skema

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang kini mengalami kelebihan kapasitas (overload). Hal ini terjadi akibat timbunan sampah yang terus bertambah selama bertahun-tahun tanpa diimbangi pengolahan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang pun menyiapkan tiga skema pengelolaan sampah untuk mengatasi persoalan tersebut. Ketiga skema pengelolaan ini ditargetkan mulai dijalankan pada 2027 mendatang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, timbunan sampah lama di TPA Jatibarang saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 3 juta ton.

Dengan produksi sampah harian yang masih terus masuk, jumlah tersebut diproyeksikan akan meningkat pesat. Jika tidak segera diolah, tumpukan sampah bisa mencapai sekitar 3,7 juta ton pada akhir 2027.

“TPA ini kan kelebihan sudah. Karena tidak pernah diolah, hanya ditumpuk terus. Sekarang sudah ada sekitar 3 juta ton,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).

“Akhir tahun 2027 diperkirakan menjadi sekitar 3,7 juta ton. Nah, ini mau diapakan? Harus ada pengolahannya,” tegas Agustina.

Menurutnya, persoalan sampah di Kota Semarang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu metode.

Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan tiga skema pengelolaan yang saling melengkapi agar mampu menangani sampah lama maupun sampah baru.

Skema pertama adalah pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang akan menerima sampah baru.

Proyek tersebut telah masuk tahap persiapan dan saat ini masih menunggu proses lelang. Proses ini dilakukan oleh lembaga Danantara untuk kawasan aglomerasi Semarang-Kendal.

Sementara itu, timbunan sampah lama yang selama ini menggunung di TPA Jatibarang akan diolah menjadi bahan bakar atau waste to fuel.

Selain itu, Pemkot Semarang juga menyiapkan program Local Service Delivery Program (LSDP) untuk mengelola sampah dari tingkat masyarakat. Skema ini diharapakan membuat sampah yang tercecer di lingkungan permukiman tidak seluruhnya berakhir di TPA.

“Nanti yang deposit sampah di Jatibarang akan selesai menjadi waste to fuel. Kemudian yang masuk akan diselesaikan PSEL listrik,” jelasnya.

“Yang di masyarakat akan diselesaikan dengan program LSDP. Jadi tiga-tiganya berjalan pada 2027,” imbuh Agustina.

Agustina optimistis kombinasi ketiga skema tersebut akan menjadi solusi komprehensif bagi persoalan sampah di Kota Semarang.

PSEL akan mengolah sampah baru, sementara waste to fuel menyelesaikan timbunan sampah lama.

Sedangkan LSDP memperkuat pengelolaan sampah dari hulu melalui pemberdayaan masyarakat. “Sehingga beban TPA Jatibarang dapat terus berkurang,” pungkasnya. (hfh/gih/rds)