Jaga Kemurnian Warisan Engkong

Susu muria
TUANG: Pegawai sedang menuangkan susu yang sampai saat ini dijaga kemurniannya. (SYAMSUL HADI / JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Berawal dari memiliki peternakan sapi perah sebanyak lima hingga sepuluh ekor pada 1938, Ang Hieng Siok, pendiri Susu Moeria Kudus mengupayakan loper menggunakan sepeda menjajakan susu murni. Dengan ciri khas fresh milk yang menjual susu dengan kemurniannya.

Dari generasi pertama Ang Hieng Siok, generasi kedua Sugeng Murijanto, generasi ketiga Lanny Murijanto, hingga sampai saat ini generasi keempat yang dipegang oleh Feliciana Natali Yuwono, kemurniaan susu tetap dipertahankan. Dengan menggunakan pemasakan sistem pasteurisasi.

“Bagaimanapun kami mempertahankan kemurnian susu. Dengan sistem pemasakan yang masih sama dari buyut saya. Karena kami tetap menjaga kemurnian warisan dari engkong,” ucapnya.

Sistem pemasakan susu sendiri ada tiga, yakni susu segar, pasteurisasi, dan UHT. Pihaknya menggunakan sistem pasteurisasi dengan proses pemasakan yang menggunakan suhu dibawah 100 derajat.

“Jadi, dulu sebelum berkembangnya zaman, generasi-generasi sebelumnya memasaknya dengan cara manual menggunakan tungku. Dengan memastikan suhu yang stabil dan mencapai proses pasteurisasi,” tuturnya.

Di sekitar tahun 1990, ada pengadaan penambahan sapi sebanyak sekitar 40 an ekor, sehingga totalnya menjadi 60 ekor. Namun, dengan banyaknya sapi perah tersebut, pemilik menjadi kebingungan dengan susu yang melimpah dan tersisa.

“Dari situ generasi ketiga, mamah saya mempunyai ide membikin kemasan susu ditaruh di cup. Dengan toko yang berada di samping kandang sapi, jadi di tahun 1998 itu daya tarik masyarakat untuk membeli susu sangat tinggi, sekaligus melihat sapi,” jelasnya.

Berkembangnya zaman, pada 2017 setelah dipegang full oleh Feliciana, baru membuat dobrakan-dobrakan baru. Seperti menu yang dulunya hanya ada susu tawar, menjadi ada varian rasa stroberi, cokelat, melon, STMJ, dan lainnya.

“Dengan tidak meninggalkan jejak-jejak dari engkong, saya merenovasi ulang dengan konsep baru. Sapi yang semakin bertambah menjadi 125 ekor, akhirnya kandang sapi kami pindah lokasinya. Serta mulai masuk dine in,” ujarnya.

Walau demikian, sistem edukasi tentang pemerahan sapi perah, proses pemasakan susu murni, sampai ke penyajian masih tetap dijalankan pihaknya. Pasalnya, banyaknya siswa atau masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana proses susu murni dari awal hingga akhir.

“Kami sampai saat ini, meskipun ada perubahan masih tetap memberikan edukasi kepada siswa-siswa, masyarakat, dan yang lainnya untuk melihat langsung proses pengolahan susu dari hulu hingga hilir,” pungkasnya.(sam/zul)