Profesi Guru sebagai Jalan Berdakwah

Siswadi, Guru Seni Rupa SMAN 5 Semarang
Siswadi, Guru Seni Rupa SMAN 5 Semarang. (UFAN FAUDHIL / JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng Menjadi seorang guru bukanlah hal enteng. Sebab, mereka memiliki kewajiban berat untuk mendidik dan mengajar generasi muda.

Hal tersebut diungkapkan oleh Siswadi (56), guru seni rupa SMAN 5 Semarang. Menurutnya, mengajar merupakan jalan untuk berdakwah.

Pria yang akrab disapa Adi itu mengungkapkan, beban besar yang diberikan kepada guru adalah untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Namun hal itu tidak menjadi halangan baginya. Profesi ini bisa ia gunakan untuk menyisipkan nilai-nilai ketuhanan di setiap pembelajaran.

“Memang beban besar ini sangat sulit diwujudkan. Namun bagi saya hal itu merupakan lahan untuk berdakwah. Dengan seni rupa, saya bisa memberikan nilai-nilai ketuhanan, karena dasar pendidikan adalah takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.

Pembelajaran seni rupa yang ia berikan kepada siswa selalu menjelaskan betapa hebat dan indahnya ciptaan tuhan. Dengan mengingat keagungan tuhan, hal itu bisa menjadi ibadah. Dirinya tidak memberikan persepsi karya itu sebagai perantara peribadatan kepada tuhan.

“Contoh seperti patung yang merupakan karya seni rupa tiga dimensi. Patung sering disalah artikan sebagai sesuatu yang haram diajaran Islam.Padahal itu persepsi. Bila kita hanya menikmati karya tersebut maka tidak ada yang salah. Seperti kursi meja atau bahkan mobil itu termasuk patung tapi memiliki nilai guna,” jelasnya.

Sebagai seorang yang menggeluti bidang seni rupa, ia miris kepada pemikiran orang tua siswa yang menganggap bakat seni tidak lebih penting dari pada nilai pelajaran eksakta, seperti matematika atau IPA. Menurutnya, hal tersebut membuat bakat-bakat seni menjadi mati.

“Orang tua perlu paham bahwa anak tidak harus pintar matematika atau IPA. Yang terpenting anak paham dan tahu bagaimana cara menggunakan ilmu dengan benar,” katanya.

Cara yang digunakan Adi untuk mengubah pemikiran tersebut tidak langsung ke orang tua. Namun dengan mengajarkan siswa. “Bila nanti berkeluarga dan memiliki anak jangan ditekan agar bisa pelajaran eksakta. Ilmu terapan seperti seni dan olahraga juga bagus,” ujarnya.

Namun untuk memahamkan hal itu, butuh waktu. Salah satu caranya mendidik anak agar mampu berprestasi dalam bidang kesenian. “Mungkin dari siswa saya bisa berkontribusi agar bakat-bakat anak generasi yang akan datang tidak mati serta mampu berkembang,” ucapnya. (fan/gih)