Jepara  

15 Tahun Jualan Pecel Rumput Laut, Ibu di Jepara Ini Sukses Hidupi Keluarga

LAYANI: Salah satu penjual pecel rumput laut, Siti Solikhatun (40), saat menjajakan dagangannya di lapak Pasar Sore Karangrandu, Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Senin (8/6/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Di tengah menjamurnya makanan modern, Siti Solikhatun (40) tetap setia mempertahankan pecel rumput laut, kuliner khas Jepara yang telah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama lebih dari 15 tahun. Setiap sore, perempuan asal Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan itu membuka lapak di Pasar Sore Karangrandu.

Dari balik meja sederhana, ia melayani pembeli yang datang silih berganti untuk menikmati pecel dengan campuran rumput laut, salah satu kuliner khas yang cukup melegenda di Kota Ukir.

Bagi Solikhatun, berjualan pecel bukan sekadar mencari nafkah. Usaha tersebut merupakan warisan sang ibu yang telah dikenalnya sejak masih duduk di bangku SMP.

Sejak remaja, ia sudah terbiasa membantu ibunya berjualan pecel dari satu tempat ke tempat lain. Sepulang sekolah maupun saat liburan, Solikhatun ikut menyiapkan bahan hingga melayani pembeli.

“Awalnya ibu saya jualan sayuran mentah di depan rumah. Karena ibu asli Gunungkidul, waktu itu belum tahu mau usaha apa di Jepara,” kata Solikhatun, Senin (8/6/2026).

Setelah sekitar dua tahun berjualan sayuran, orang tuanya melihat peluang usaha pecel yang saat itu banyak digemari masyarakat sekitar. Dari situlah usaha pecel khas Jepara mulai dirintis.

Pecel racikan keluarganya memiliki ciri khas yang masih dipertahankan hingga sekarang. Selain berisi bayam, kecambah, dan bunga turi, pecel tersebut selalu dilengkapi rumput laut yang menjadi identitas kuliner khas Jepara.

Menurut Solikhatun, sang ibu selalu menekankan pentingnya menjaga kualitas rasa. Salah satunya dengan membuat bumbu pecel yang kental dan tidak pelit saat disajikan kepada pembeli.

“Meskipun ibu bukan orang Jepara asli, tapi beliau gigih belajar dan mempertahankan rasa pecel yang disukai pelanggan,” ujarnya.

Usaha tersebut kemudian diteruskan Solikhatun setelah ibunya meninggal dunia. Pada 2009, ia mulai berjualan secara mandiri dengan tekad menjaga warisan keluarga agar tidak berhenti di generasi pertama.

“Awalnya saya hanya berpikir meneruskan usaha ibu semampunya saya. Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan,” tuturnya.