Dalam menjalankan usaha, Solikhatun mendapat dukungan penuh dari suaminya. Sang suami membantu menyediakan bahan baku setiap pagi, termasuk mencari rumput laut yang menjadi bahan utama pecel khas Jepara.
Sementara Solikhatun bertugas menyiapkan bumbu dan memasak seluruh bahan sebelum dibawa ke Pasar Sore Karangrandu.
Dari lapak pecel itulah kebutuhan keluarga sehari-hari dipenuhi. Hasil berjualan juga digunakan untuk membiayai pendidikan kedua anaknya yang kini duduk di bangku SMP dan TK.
“Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan keluarga dan sekolah anak-anak,” terangnya.
Selain mempertahankan cita rasa, Solikhatun juga berusaha menjaga harga jual agar tetap terjangkau. Saat ini satu porsi pecel rumput laut lengkap dengan horog-horog, lontong, atau nasi dijual Rp 6.000 untuk makan di tempat dan Rp 5.000 untuk dibungkus.
Menurutnya, prinsip berdagang dengan harga ramah kantong merupakan pesan yang diwariskan orang tuanya sejak dulu. “Yang penting berkah. Tidak perlu minder walau jualan pecel,” ujarnya.
Menariknya, setiap hari Solikhatun selalu menyediakan tiga pilihan pendamping, yakni horog-horog, lontong, dan nasi. Horog-horog yang merupakan makanan khas Jepara pengganti nasi justru menjadi pilihan favorit warga lokal.
Sementara pembeli dari luar daerah seperti Kudus dan Demak lebih banyak memilih lontong atau nasi sebagai pelengkap pecel rumput laut.
“Kalau warga Jepara biasanya cari horog-horog. Kalau dari luar daerah lebih sering minta lontong atau nasi. Jadi semuanya saya sediakan supaya pembeli terlayani,” tandasnya. (oka/gih/rds)










