SEMARANG, Joglo Jateng – Kepala Dinas Pendidikan Kota (Disdik) Semarang, Gunawan Saptogiri memastikan, temuan kasus Covid -19 varian Omicron yang menular pada anak usia 7 tahun di Kota Semarang bukan klaster sekolah. Menurutnya, pihaknya telah mengacu pada surat keputusan bersama (SKB) empat menteri untuk mengantisipasi kasus Omicron di dunia pendidikan.
“Pinsipnya pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) sudah diatur berdasarkan SKB empat menteri. Termasuk temuan kasus Covid-19, jika ada satu atau dua yang terkena juga diatur antisipasinya. Paling penting menjaga tidak ada klaster Covid-19 sekolah,” kata Gunawan Saptogiri saat ditemui Joglo Jateng, Senin (24/1/22).
Ia mengatakan, pihaknya bersama jajaran selalu bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang. Apalagi, lanjutnya, siswa yang ada di Kota Semarang sudah mendapatkan vaksinasi anak usia 6-11 tahun dosis pertama. Selain itu, vaksin dosis kedua juga sedang berlangsung di Kota Semarang.
“Kita sudah melaksanakan vaksin anak usia 6-11 tahun dan mulai vaksin kedua. Nantinya, kalau vaksin kedua cakupannya sudah melebihi 80 persen, SD bisa sama dengan SMP menggelar PTM secara full atau 100 persen dengan kapasitas ruangan,” ujarnya.
Di sisi lain, menurut Gunawan, DKK Semarang juga secara rutin mengadakan tes swab secara door to door ke sekolahan. Oleh karena itu, ia menilai PTM di Kota Semarang tidak ada temuan klaster.
“Tesnya secara rutin dari puskesmas ke sekolah. Selama ini, PTM di Semarang berjalan lancar aman-aman terus,” ucapnya.
Saat ditanya soal anak usia 7 tahun terjangkit Omicron sekolah di mana, Gunawan mengaku belum mengetahui keberadaan sekolah anak tersebut. Ia menengaskan, pihaknya tidak akan memberhentikan PTM soal temuan Omicron di Kota Semarang. Sebab, PTM diatur dalam SKB empat menteri.
“Belum tahu sekolahannya mana. Intinya, enggak ada rencana pemberhentian, jadi enggak asal memberhentikan. Karena PTM berdasarkan SKB empat menteri,” katanya.
Lebih lanjut, Gunawan menyebut vaksinasi dosis kedua untuk anak usia 6-11 tahun di Kota Semarang cakupannya hampir 100 persen. “Ada yang kondisinya belum bisa divaksin, ada orang tua yang tidak mengizinkan. Perkiraan saya akhir Februari selesai, mampu melebihi target,” ucapnya.
Kendati demikian, ia menekankan bahwa meski sudah mendapatkan vaksin dosis pertama dan kedua, masyarakat diharapkan tetap menaati protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Baik di dunia pendidikan maupun di luar pendidikan. (dik/gih)










