UMKM  

Raup Puluhan Juta dari Budidaya Jamur Tiram

TERTATA: Pekerja sedang memeriksa tumpukan jamur tiram (baglog) di rak, belum lama ini. (LUTHFI MAJID / JOGLO JATENG)

Bagi Mukrim jamur merupakan makanan sehat dan memiliki prospek penjualan yang bagus.

BERAWAL dari kejelian menangkap peluang usaha, Mukrim sukses membudidaya jamur tiram. Lewat usahanya tersebut, pria asal Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati itu kini mampu meraup puluhan juta setiap bulannya.

Mukrim menceritakan, awal mula menekuni budidaya jamur tiram karana melihat lingkungan sekitar yang belum ada pembudidaya jamur. Menurutnya, jamur tidak hanya memiliki prospek penjualan yang bagus, tapi termasuk makanan sehat.

“Jenis olahan pasca panen, pertama jamur krispi. Kita mengembangkan olahan berbahan dasar dari jamur, contoh kaldu jamur, saat ini kan populer penyedap rasa. Jamur sifatnya fleksibel, tergantung kreativitas kita,” ungkapnya, Senin (11/4).

Produk jarum tiram miliknya itu diberi nama Jamur Jamkid. Ia menyebut bahwa jenis jamur tiram cukup beragam, tapi ia hanya khusus budidaya jamur tiram putih saja. Meskipun hanya satu jenis saja, omzet yang didapatkannya sudah tergolong tinggi.

“Berbicara mengenai omzet atau keuntungan itu kita tidak bisa memastikan. Karena, naik turun. Kalau berdasarkan penjualan 4-5 ribu baglog tiap bulan itu mendapat Rp 10 juta,” terangnya.

Mukrim menjelaskan tentang proses pembuatan jamur tiram. Dari mulai penyedian media yang terbuat dari serbuk kayu, kemudian gamping dan bekatol. Hingga sampai proses oven, kemudian dicampur dengan bibit jamur.

“Ditempatkan ke dalam rak-rak yang sudah ada disediakan di satu bangunan, setelah itu tinggal menunggu hingga 1,5 bulan baru bisa dipanen,” imbuhnya.

Ia berharap, agar bisa lebih meningkatkan ekapansi pasar. Jadi tidak hanya di pasar lokal melaikan dapat menjangkau pasar nasional hingga internasional. Oleh karena itulah butuh dukungan dari pemerintah untuk meningkatkan produksinya. (cr7/gih)